
Ketika Pembelajaran Al-Qur’an Tidak Cukup Hanya Mengejar Hafalan
Terbit 2026
Apa yang sebenarnya menentukan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an? Apakah banyaknya santri yang naik jilid, cepatnya target hafalan tercapai, atau padatnya program yang diselenggarakan? Buku Manajemen Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran Al-Qur’an mengajak pembaca melihat persoalan tersebut dengan pandangan yang lebih luas dan mendalam. Pendidikan Al-Qur’an, menurut buku ini, tidak cukup dijalankan hanya dengan semangat mengajar, rutinitas halaqah, atau target hafalan. Ia memerlukan arah yang jelas, pengalaman belajar yang bermakna, asesmen yang adil, evaluasi berbasis data, serta inovasi yang tetap menjaga ruh tarbiyah Qur’ani. Inilah daya tarik utama buku karya Akhmad Shunhaji ini. Buku ini tidak sekadar membicarakan cara mengajarkan Al-Qur’an, tetapi mengajak pembaca memikirkan keseluruhan sistem pendidikan yang berada di balik proses tersebut. Pembaca diajak mempertanyakan bukan hanya apa yang diajarkan, tetapi juga mengapa materi itu diajarkan, bagaimana prosesnya dirancang, bagaimana hasilnya dinilai, dan bagaimana kekurangannya diperbaiki. Dengan demikian, kurikulum tidak lagi dipahami sebagai tumpukan dokumen administratif, daftar materi, jadwal pelajaran, atau angka target hafalan. Kurikulum ditempatkan sebagai peta besar yang menentukan tujuan, mutu layanan, pengalaman belajar, dan arah perkembangan peserta didik. Dari Landasan Teoretis Menuju Persoalan Nyata Pembahasan buku ini disusun secara bertahap dan runtut. Pembaca terlebih dahulu diperkenalkan pada posisi dan ruang lingkup manajemen kurikulum pendidikan Al-Qur’an. Setelah itu, pembahasan bergerak menuju landasan Outcome-Based Education atau OBE, analisis kebutuhan lembaga, perumusan profil lulusan dan capaian pembelajaran, desain struktur kurikulum, pengembangan pengalaman belajar, inovasi metode dan media, implementasi, asesmen autentik, evaluasi, kebijakan kurikulum, studi kasus, hingga proyek akhir berbasis artefak. Urutan tersebut menjadikan buku ini bukan sekadar kumpulan teori yang berdiri sendiri. Setiap bab menjadi bagian dari satu alur pemikiran: masalah lembaga harus dibaca terlebih dahulu, kemudian diterjemahkan menjadi capaian pembelajaran, struktur kurikulum, metode, asesmen, evaluasi, dan keputusan perbaikan. Pendekatan ini penting karena banyak lembaga pendidikan terkadang langsung memilih metode, membeli media, atau menambah program sebelum memahami masalah yang sesungguhnya. Buku ini justru mengingatkan bahwa inovasi yang baik bukanlah sesuatu yang hanya tampak baru atau modern. Inovasi harus menjawab kebutuhan nyata, membantu tercapainya tujuan pembelajaran, sesuai dengan karakter santri, dan realistis untuk dijalankan oleh lembaga. Memadukan Ketegasan Sistem dengan Kehangatan Nilai Hal yang membedakan buku ini dari buku manajemen kurikulum pada umumnya ialah keberhasilannya memadukan pendekatan akademik dengan nilai-nilai Qur’ani dan paradigma Manajemen Cinta. Dalam kerangka tersebut, pendidikan yang baik tidak cukup hanya rapi secara administrasi dan terukur secara akademik. Pendidikan juga harus menghargai martabat manusia, menghadirkan keadilan, membangun kasih sayang, memperkuat keteladanan, dan berpihak pada pertumbuhan peserta didik. Karena itu, target pembelajaran tidak boleh dicapai dengan mengabaikan kondisi santri. Jadwal yang disiplin belum tentu sehat apabila membuat peserta didik kelelahan. Asesmen yang menghasilkan angka belum tentu adil apabila tidak membaca perkembangan individual. Begitu pula inovasi berbasis teknologi belum tentu bermanfaat apabila justru menjauhkan pembelajaran dari tujuan dan nilai-nilai Qur’ani. Buku ini berhasil mempertemukan dua hal yang sering dipisahkan: ketegasan sistem dan kehangatan pendidikan. Kurikulum harus jelas, terukur, dan berbasis bukti, tetapi pelaksanaannya tetap harus manusiawi. Studi Kasus yang Dekat dengan Kehidupan Lembaga Kekuatan lain buku ini terletak pada penggunaan studi kasus yang relevan dengan persoalan nyata. Pada kasus TPQ atau RTQ, misalnya, pembaca diperlihatkan persoalan waktu belajar yang terbatas, kemampuan santri yang beragam, target pembelajaran yang terlalu padat, ketidaksamaan standar guru, dan dukungan orang tua yang tidak selalu merata. Solusi yang ditawarkan bukan menambah semakin banyak program, melainkan memperjelas prioritas, menata kelompok belajar berdasarkan kemampuan, dan menetapkan perangkat minimum yang digunakan secara konsisten oleh seluruh guru. Pada kasus rumah tahfizh, buku ini membahas ketegangan antara banyaknya hafalan baru dan lemahnya muraja’ah. Keberhasilan tidak seharusnya hanya dinilai dari jumlah ayat atau juz yang berhasil disetorkan, tetapi juga dari kestabilan hafalan, kualitas bacaan, kedisiplinan belajar, dan kemampuan menjaga hafalan lama. Adapun dalam kasus pesantren tahfizh, buku ini mengangkat persoalan yang lebih kompleks: jadwal terlalu padat, kelelahan belajar, disiplin yang hanya berjalan ketika diawasi, terbatasnya ruang refleksi, serta ketidakseimbangan antara target hafalan, pembinaan adab, dan kehidupan santri. Buku ini mengingatkan bahwa jadwal yang baik bukanlah jadwal yang paling penuh, melainkan jadwal yang paling mendukung pertumbuhan. Studi-studi kasus tersebut membuat pembaca tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa teorinya?” Pembaca didorong untuk bertanya, “Bagaimana teori ini digunakan ketika lembaga menghadapi persoalan nyata?” Bukan Sekadar Dibaca, tetapi Digunakan Orientasi praktis buku ini semakin terlihat melalui empat luaran utama yang diarahkan kepada pembaca, yaitu: 1. dokumen kurikulum pembelajaran Al-Qur’an berbasis CPL dan OBE; 2. rancangan inovasi metode atau media pembelajaran; 3. instrumen asesmen autentik; 4. rekomendasi kebijakan kurikulum bagi lembaga pendidikan Al-Qur’an. Keempatnya menunjukkan bahwa pembaca tidak diarahkan hanya untuk memahami istilah dan konsep, tetapi juga menghasilkan karya yang dapat diperiksa, digunakan, diuji, dan dikembangkan oleh lembaga. Pendekatan berbasis artefak seperti ini membuat buku tersebut sangat berguna sebagai buku ajar, panduan diskusi, bahan evaluasi lembaga, maupun pegangan dalam menyusun ulang kurikulum pendidikan Al-Qur’an. Kelebihan dan Catatan Kritis Buku ini memiliki beberapa kelebihan menonjol. Pembahasannya sistematis, cakupannya luas, bahasanya relatif ringan untuk ukuran buku akademik, serta mampu menghubungkan teori, nilai, dan praktik kelembagaan. Kehadiran OBE, asesmen autentik, evidence, evaluasi berbasis data, Manajemen Cinta, dan studi kasus menjadikan pembahasannya relevan dengan kebutuhan pendidikan Al-Qur’an masa kini. Namun, keluasan cakupannya juga menjadi tantangan tersendiri. Pembaca yang belum terbiasa dengan istilah seperti CPL, CPMK, OBE, evidence, asesmen autentik, dan policy brief mungkin perlu membaca beberapa bagian secara perlahan. Karena buku ini berusaha menjangkau banyak aspek sekaligus, pembaca yang menginginkan pembahasan sangat teknis mengenai satu metode mengajar, tahsin, tahfizh, atau teknologi tertentu tetap memerlukan referensi pendamping. Hal tersebut bukan kelemahan mendasar, melainkan konsekuensi dari posisi buku ini sebagai panduan manajemen kurikulum yang bersifat menyeluruh. Penutup Manajemen Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran Al-Qur’an layak dibaca oleh mahasiswa, dosen, ustaz, guru, pengelola TPQ dan RTQ, rumah tahfizh, pesantren tahfizh, madrasah Qur’ani, serta pemerhati pendidikan Islam. Sasaran pembacanya memang luas karena persoalan yang dibicarakan tidak hanya terjadi di ruang perkuliahan, tetapi juga di berbagai lembaga pendidikan Al-Qur’an. Buku ini pada akhirnya membawa satu pesan penting: keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak cukup diukur dari seberapa cepat materi selesai atau seberapa banyak hafalan terkumpul. Keberhasilannya juga terlihat dari kuatnya bacaan, terjaganya hafalan, tumbuhnya adab, sehatnya pengalaman belajar, serta semakin dekatnya peserta didik dengan Al-Qur’an. Karena itu, buku ini bukan hanya menawarkan cara menyusun kurikulum. Ia mengajak pembaca menata kembali cara berpikir tentang pendidikan Al-Qur’an—dari pendidikan yang sekadar menjalankan kegiatan menuju pendidikan yang sadar tujuan, terukur hasilnya, hangat prosesnya, dan terus diperbaiki dengan penuh tanggung jawab.