Karya Akhmad Shunhaji

Books

Jelajahi koleksi buku, gagasan, dan pemikiran tentang pendidikan, manajemen, serta kehidupan.

Menampilkan 15 buku · 6 buku per halaman.

Akhmad Shunhaji2026

Tentang buku

Ketika Kata Bukan Sekadar Indah, tetapi Menjadi Jalan Pulang Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan kembali di rak. Ada pula buku yang membuat kita berhenti sejenak, memikirkan diri sendiri, lalu bertanya: Sudahkah kata-kata yang saya ucapkan dan tuliskan membawa kebaikan? CIPTA PUISI ISLAMI: Menggali Keindahan Kata dari Ayat Al-Qur’an dan Hadis karya Akhmad Shunhaji termasuk buku jenis kedua. Sesuai judul dan arah yang ditegaskan penulis sejak awal, buku ini tidak sekadar berbicara tentang bagaimana membuat puisi bernuansa agama, tetapi mengajak pembaca memahami bagaimana keindahan bahasa dapat tumbuh dari perenungan terhadap Al-Qur’an, hadis, pengalaman iman, dan kehidupan sehari-hari. Hal yang membuat buku ini menarik adalah pendekatannya yang ringan tetapi tidak dangkal. Pembaca tidak langsung dibebani teori sastra yang rumit. Kita justru diajak masuk melalui pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan: rasa bersalah, harapan, kehilangan, doa, sujud, kasih kepada orang tua, suara azan, hujan, sajadah, perjalanan pulang, hingga kegelisahan seorang manusia yang ingin menjadi lebih baik. Buku ini seperti ingin mengatakan bahwa puisi Islami tidak harus dipenuhi istilah-istilah agama agar terasa Islami. Sebuah puisi dapat berbicara tentang tangan ibu yang mulai gemetar, seorang anak yang berbagi makanan, seseorang yang menunda shalat, atau manusia yang sedang berusaha pulang dari kesalahannya. Selama nilai, arah, dan pesannya membawa manusia kepada kebaikan, di situlah ruh keislamannya hadir. Penulis menekankan bahwa puisi Islami harus lahir dari pemahaman yang benar, niat yang baik, kejujuran rasa, dan tanggung jawab terhadap kata-kata. Inilah salah satu kekuatan utama buku ini: ia tidak menjadikan puisi sebagai ceramah yang dipotong-potong menjadi beberapa baris. Alih-alih hanya menulis, “Kita harus rajin shalat”, misalnya, pembaca diajak belajar menghadirkan pengalaman, suasana, dan perasaan. Nasihat tidak sekadar diberitahukan, tetapi dibuat terasa. Sebab penulis memahami bahwa kadang satu gambaran sederhana mampu mengetuk hati lebih kuat daripada uraian yang panjang. Buku ini juga mempunyai sikap yang sangat jelas terhadap Al-Qur’an dan hadis. Ayat Al-Qur’an tidak diperlakukan sebagai bahan permainan kata, dan hadis tidak dipaksakan agar sesuai dengan keinginan penyair. Pembaca justru diajak memahami pesan terlebih dahulu, merasakan kedalamannya, kemudian mengungkapkannya dengan bahasa yang indah. Pendekatan seperti ini membuat CIPTA PUISI ISLAMI terasa bukan hanya sebagai buku sastra, tetapi juga sebagai buku latihan kepekaan. Kepekaan terhadap kata. Kepekaan terhadap kehidupan. Kepekaan terhadap orang lain. Dan yang paling penting, kepekaan terhadap hubungan manusia dengan Allah. Menariknya lagi, buku ini sangat praktis. Pembaca tidak berhenti pada pembahasan mengenai pengertian puisi. Di dalamnya dibahas bagaimana menemukan gagasan, menentukan emosi, memilih suasana, membangun simbol, menggunakan citraan, metafora, diksi, irama, rima, menyusun pembuka dan penutup, sampai menyunting puisi tanpa menghilangkan “jiwanya”. Buku ini bahkan membawa pembaca melalui proses dari sumber, pesan, rasa, gambar, hingga akhirnya menjadi puisi. Karena itu, buku ini tidak terasa seperti buku yang berkata, “Beginilah puisi yang bagus.” Sebaliknya, ia seperti seorang pendamping yang berkata: “Mari kita coba. Mari kita rasakan. Mari kita tuliskan. Lalu mari kita perbaiki bersama." Ada penjelasan, ada contoh, ada latihan, ada tugas, ada renungan, dan ada proses penyuntingan. Struktur seperti ini membuat pembaca bukan hanya mengetahui cara menulis puisi, tetapi perlahan-lahan berani menciptakan puisinya sendiri. Lebih menarik lagi, pembahasan buku bergerak dari teknik menuju wilayah yang semakin dekat dengan pengalaman spiritual. Pembaca diajak menulis tentang hubungan manusia dengan Allah—tentang tauhid, syukur, takut, harap, tawakal, doa, dan pertobatan—kemudian memasuki tema cinta kepada Rasulullah ﷺ dan berbagai pengalaman ibadah seperti azan, wudu, shalat, puasa, zakat, sedekah, dan haji. Namun buku ini tidak mendorong pembaca untuk tampil seolah-olah paling saleh. Justru ada pesan yang sangat kuat: menulis puisi Islami bukanlah perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling suci. Ketika menulis tentang orang yang lalai, kita diingatkan bahwa kita pun pernah lalai. Ketika menulis tentang dosa, kita diingatkan bahwa kita juga membutuhkan ampunan. Ketika menulis tentang penderitaan, kita diminta tidak meremehkan luka orang lain. Penulis mengajak pembaca menulis sebagai seorang hamba yang sedang belajar, bukan sebagai hakim yang merasa mengetahui semuanya. Pesan ini membuat buku tersebut terasa sangat manusiawi. Ia tidak mengajak kita menutupi kegelisahan dengan kata-kata religius. Kesedihan tetap boleh hadir. Penyesalan boleh diceritakan. Kehilangan boleh ditangisi. Keraguan, kegagalan, dan kelemahan manusia tidak harus disembunyikan. Tetapi semua itu diarahkan agar manusia tidak berhenti pada luka. Ada ruang untuk kembali. Ada ruang untuk berharap. Ada ruang untuk memperbaiki diri. Itulah sebabnya buku ini akan menarik bukan hanya bagi mereka yang sudah gemar menulis puisi. Pelajar dapat menggunakannya untuk belajar mengekspresikan perasaan. Mahasiswa dapat menemukan cara baru membaca pengalaman kehidupan. Guru dapat memanfaatkannya untuk pembelajaran sastra dan karakter. Santri dapat menjadikannya ruang kreativitas yang tetap menjaga adab terhadap sumber agama. Pendakwah dapat belajar bagaimana menyampaikan pesan dengan lebih menyentuh. Bahkan orang yang merasa dirinya tidak bisa membuat puisi tetap dapat mengikuti buku ini karena pembahasannya dibangun secara bertahap dan disertai contoh serta latihan. Buku ini memang ditujukan untuk pembaca dari berbagai latar belakang, tanpa menuntut pengalaman khusus dalam menulis. Ada satu gagasan yang mungkin paling membekas setelah membaca bagian-bagian buku ini: Kata yang baik seharusnya terlebih dahulu menyentuh penulisnya sebelum menyentuh pembacanya. Karena itu, CIPTA PUISI ISLAMI sebenarnya bukan sekadar buku tentang cara merangkai kata. Ia adalah ajakan untuk belajar melihat kehidupan dengan lebih dalam. Melihat sajadah bukan hanya sebagai alas shalat, tetapi sebagai saksi kepulangan seorang hamba. Melihat hujan bukan hanya sebagai air yang turun dari langit, tetapi mungkin sebagai lambang rahmat dan harapan. Melihat tangan ibu yang mulai keriput bukan sekadar tanda usia, tetapi pengingat tentang cinta yang selama ini mungkin terlalu kita anggap biasa. Melihat azan bukan hanya sebagai suara yang terdengar lima kali sehari, tetapi sebagai panggilan yang terus datang meskipun manusia berkali-kali menjawab, "nanti.” Di titik itulah buku ini menemukan kekuatannya. Ia membuat hal-hal yang selama ini biasa kita lihat menjadi layak direnungkan kembali. Dan barangkali setelah membaca buku ini, seseorang tidak hanya akan mulai menulis puisi. Ia mungkin mulai lebih pelan ketika membaca ayat. Lebih lama ketika merenungkan sebuah hadis. Lebih peka ketika melihat orang lain terluka. Lebih sadar ketika mendengar azan. Lebih bersyukur ketika melihat hal-hal sederhana. Dan lebih berhati-hati ketika memilih kata. Sebab sebagaimana semangat yang dibangun buku ini, kata bukan hanya bunyi yang selesai ketika diucapkan. Kata dapat menjadi jendela yang memperlihatkan jalan pulang. Maka, jika Anda mencari buku yang mengajarkan puisi sekaligus mengajak hati ikut belajar, CIPTA PUISI ISLAMI karya Akhmad Shunhaji layak dibaca sampai halaman terakhir. Bukan hanya untuk mengetahui **bagaimana menciptakan puisi Islami**, tetapi untuk menemukan sesuatu yang lebih penting: bagaimana membuat kata menjadi indah tanpa kehilangan kebenaran, membuat pesan menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan, dan menjadikan tulisan bukan sekadar karya—tetapi juga ruang untuk merenung, bertumbuh, dan mendekat kepada Allah.

Beli buku
Akhmad Shunhaji2026

Tentang buku

Ini bukan buku tentang cara membuang ponsel. Ini adalah buku tentang cara agar kita tidak membuang hidup di dalam ponsel. Kita hidup pada masa ketika dunia terasa semakin dekat, tetapi manusia justru semakin jauh dari dirinya sendiri. Informasi tersedia dalam hitungan detik, komunikasi berlangsung tanpa batas, pekerjaan dapat diselesaikan dari mana saja, dan hiburan tidak pernah habis. Namun, di balik segala kemudahan itu, muncul keganjilan yang semakin banyak dirasakan: tubuh tidak melakukan pekerjaan berat, tetapi pikiran terasa lelah; kehidupan tampak ramai, tetapi hati terasa sepi; hari dipenuhi aktivitas, tetapi makna hidup justru semakin sulit ditemukan. Dari kegelisahan inilah Hidup Waras di Zaman Digital lahir. Buku karya Akhmad Shunhaji ini mengangkat pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia modern: mengapa hidup terasa semakin mudah, tetapi batin justru semakin lelah? Buku ini tidak memusuhi teknologi. Teknologi tetap dipandang sebagai alat yang dapat digunakan untuk belajar, bekerja, berdakwah, bersilaturahmi, dan menyebarkan kebaikan. Persoalannya muncul ketika alat itu perlahan berubah menjadi penguasa atas perhatian, waktu, pikiran, bahkan hati manusia. Buku yang Membaca Kegelisahan Pembacanya Kekuatan pertama buku ini terletak pada kemampuannya menangkap pengalaman yang sangat nyata, tetapi sering sulit dijelaskan. Pembaca mungkin pernah merasa lelah setelah berjam-jam “hanya” rebahan sambil menggulir layar. Mungkin pernah membuka ponsel sekadar untuk melihat jam, tetapi beberapa menit kemudian telah berpindah dari pesan, media sosial, berita, video pendek, hingga kehidupan orang lain yang diam-diam membuat diri merasa tertinggal. Tubuh memang tidak pergi ke mana-mana. Namun, pikiran telah dibawa masuk ke puluhan ruang sekaligus. Buku ini membantu pembaca menyadari bahwa kelelahan tersebut bukan sesuatu yang mengada-ada. Ada energi mental yang terkuras ketika perhatian terus dipotong oleh notifikasi, berita, komentar, perbandingan sosial, tuntutan pekerjaan, dan dorongan untuk selalu mengetahui segala sesuatu. Akibatnya, manusia terlihat sibuk, tetapi tidak benar-benar hadir; beristirahat, tetapi tidak pulih; terhubung dengan banyak orang, tetapi tidak memiliki kedekatan yang berarti. Karena itu, membaca buku ini terasa seperti bercermin. Pembaca tidak hanya menemukan pembahasan mengenai teknologi, tetapi juga menemukan potongan-potongan dirinya sendiri di dalam setiap persoalan yang dibicarakan. Bukan Ceramah Anti-Teknologi Salah satu keunggulan penting buku ini adalah sikapnya yang seimbang. Penulis tidak terjebak dalam pandangan bahwa teknologi merupakan sumber seluruh masalah dan manusia harus menjauh darinya. Buku ini justru menawarkan pertanyaan yang lebih jujur dan mendalam: apakah kita menggunakan teknologi dengan sadar, atau sebenarnya sedang diseret olehnya? Hidup waras tidak dimaknai sebagai hidup tanpa masalah, tanpa kesedihan, atau tanpa kecemasan. Hidup waras adalah kemampuan untuk tetap sadar: sadar kapan harus bekerja dan berhenti, kapan harus membuka layar dan meletakkannya, kapan harus menolong dan berkata tidak, serta kapan harus mengikuti kabar dunia dan kapan harus melindungi hati dari kebisingan yang tidak perlu. Inilah yang membuat buku ini tidak terasa menggurui. Pembaca tidak dipaksa meninggalkan dunia modern, tetapi diajak mengambil kembali kendali atas dirinya. Teknologi tetap digunakan, pekerjaan tetap dijalankan, informasi tetap diikuti, tetapi semuanya ditempatkan secara proporsional. Manusia tetap hidup di tengah zaman, tanpa membiarkan zaman menentukan seluruh arah hidupnya. Islam yang Hadir di Tengah Masalah Nyata Buku ini menarik karena tidak menempatkan Islam hanya sebagai kumpulan nasihat normatif. Nilai-nilai Islam diterjemahkan ke dalam persoalan yang benar-benar dialami manusia masa kini. Shalat dibahas sebagai ruang berhenti dari hiruk-pikuk dunia. Dzikir menjadi jalan mengumpulkan hati yang tercerai-berai. Puasa dipahami sebagai latihan menunda keinginan di tengah budaya serba instan. Tawakkal menjadi kekuatan menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan ikhtiar. Qana’ah menjadi benteng dari perbandingan sosial. Muraqabah dibawa ke dunia digital: bukan hanya merasa diawasi Allah di masjid, tetapi juga ketika membuka layar, menulis komentar, menyebarkan berita, dan menggunakan waktu. Dengan pendekatan tersebut, pembaca akan menemukan bahwa iman bukan sesuatu yang terpisah dari problem kehidupan modern. Iman justru dapat menjadi kompas ketika algoritma, tren, penilaian manusia, dan ketakutan terus berusaha menentukan arah hidup. Buku ini mengajak pembaca menjadi Muslim bukan hanya ketika melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga ketika berada di kolom komentar, membalas pesan, memilih tontonan, menghadapi perbedaan, serta memutuskan kapan harus melanjutkan dan kapan harus berkata “cukup.” Membicarakan Masalah yang Sering Kita Sembunyikan Ruang pembahasan buku ini sangat luas, tetapi tetap berada dalam satu benang merah: bagaimana menjaga keutuhan manusia di tengah dunia yang terus menarik perhatiannya. Pembaca akan diajak memasuki berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti: • kelelahan digital dan kebocoran fokus; • doomscrolling dan kecemasan kolektif; • ketergantungan pada hiburan cepat; • kesepian di tengah banyaknya koneksi; • burnout dan pemujaan terhadap produktivitas; • krisis makna dalam rutinitas; • perfeksionisme dan ketakutan terhadap penilaian; • kecemasan finansial dan masa depan; • kesulitan menetapkan batas; • kesehatan mental dan luka batin; • kekeringan ibadah; • hubungan keluarga yang kehilangan kehadiran; • serta perjuangan menjaga iman di tengah arus zaman. Tema-tema tersebut tidak dibahas sebagai masalah orang lain. Semuanya dibawa ke wilayah yang sangat personal: apa yang terjadi di kepala kita, apa yang diam-diam memenuhi hati, apa yang merusak hubungan, dan apa yang perlahan menjauhkan manusia dari Allah. Hangat terhadap Luka, Tegas terhadap Kekeliruan Bagian paling bernilai dari buku ini adalah cara penulis membicarakan kesehatan mental. Buku ini tidak memisahkan kesehatan jiwa dari iman, tetapi juga tidak menyederhanakan seluruh luka batin sebagai tanda kurang iman. Tidak semua kesedihan selesai dengan perintah untuk bersyukur. Tidak semua kecemasan hilang setelah seseorang diminta lebih banyak berdoa. Tidak semua orang yang kelelahan berarti kurang sabar. Ada manusia yang sedang berada di batas kemampuan dan membutuhkan kehadiran, pendampingan, serta pertolongan yang tepat. Pandangan ini menjadikan buku tersebut terasa moderat, matang, dan penuh rahmah. Agama tidak digunakan untuk memukul orang yang sedang rapuh, melainkan untuk memberinya harapan. Nasihat tetap penting, tetapi harus disampaikan dengan waktu yang tepat, bahasa yang lembut, dan kesediaan untuk mendengarkan sebelum menghakimi. Bahkan, mencari dukungan dari konselor, psikolog, psikiater, keluarga, atau komunitas yang aman ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar menjaga amanah jiwa, bukan sebagai tanda kegagalan spiritual. Tidak Berhenti pada Renungan Buku ini bukan hanya mengajak pembaca memahami masalah, tetapi juga mulai bergerak. Setiap bagian diarahkan kepada latihan-latihan kecil yang realistis: mengatur konsumsi berita, menjaga pintu perhatian, menetapkan batas digital, melatih diri berkata tidak, mengurangi perbandingan, membangun kedekatan keluarga, menata ritme ibadah, hingga berani memulai sesuatu meskipun belum sempurna. Pendekatan “langkah kecil” menjadi kekuatan penting buku ini. Penulis memahami bahwa manusia yang sedang lelah tidak membutuhkan tuntutan perubahan besar yang justru menambah beban. Ia membutuhkan langkah yang mungkin dilakukan hari ini. Mungkin hanya menaruh ponsel selama beberapa menit. Mungkin mematikan notifikasi yang tidak penting. Mungkin mendengarkan anggota keluarga tanpa melihat layar. Mungkin berhenti mengikuti akun yang membuat hati terus merasa kurang. Mungkin beristirahat tanpa merasa bersalah. Mungkin kembali shalat dengan sedikit lebih hadir. Mungkin mengakui bahwa diri sedang membutuhkan pertolongan. Perubahan tidak harus dimulai dari tindakan spektakuler. Ia dapat dimulai dengan mengambil kembali satu bagian kecil dari perhatian yang selama ini tercecer. Sebuah Perjalanan Kembali Menjadi Manusia Pada akhirnya, buku ini tidak sekadar membicarakan penggunaan teknologi. Tema terdalamnya adalah kemerdekaan batin. Bisakah manusia tetap menggunakan dunia tanpa membiarkan dunia menggunakan dirinya? Bisakah ia bekerja keras tanpa kehilangan keluarga? Mengikuti perkembangan tanpa diperbudak tren? Berada di media sosial tanpa menjadikan penilaian orang sebagai ukuran harga diri? Tetap produktif tanpa menjadikan produktivitas sebagai berhala baru? Buku ini menawarkan satu arah: mengambil kembali perhatian, menata hati, memulihkan relasi, menemukan makna, dan kembali kepada Allah. Hidup yang waras bukan hidup yang bebas sepenuhnya dari teknologi, melainkan hidup yang tidak menyerahkan seluruh hati kepadanya. Karena itu, Hidup Waras di Zaman Digital layak dibaca oleh siapa pun yang pernah merasa: hidup terus berjalan, tetapi dirinya seperti tertinggal di belakang. Buku ini tidak menjanjikan kehidupan tanpa persoalan. Ia menawarkan sesuatu yang lebih jujur dan lebih dibutuhkan: cara menjalani persoalan tanpa kehilangan diri, tanpa kehilangan arah, dan tanpa kehilangan tempat pulang. Di tengah dunia yang semakin bising, buku ini mengingatkan bahwa perhatian adalah amanah, ketenangan adalah kebutuhan, keluarga membutuhkan kehadiran, jiwa berhak dirawat, dan hati selalu membutuhkan jalan pulang kepada Allah. Itulah sebabnya buku ini bukan sekadar bacaan tentang zaman digital. Ia adalah undangan untuk berhenti sejenak, menarik napas, melihat kembali cara kita hidup, lalu perlahan-lahan kembali menjadi manusia yang utuh.

Beli buku
Akhmad Shunhaji2026

Tentang buku

Apa yang sebenarnya menentukan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an? Apakah banyaknya santri yang naik jilid, cepatnya target hafalan tercapai, atau padatnya program yang diselenggarakan? Buku Manajemen Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran Al-Qur’an mengajak pembaca melihat persoalan tersebut dengan pandangan yang lebih luas dan mendalam. Pendidikan Al-Qur’an, menurut buku ini, tidak cukup dijalankan hanya dengan semangat mengajar, rutinitas halaqah, atau target hafalan. Ia memerlukan arah yang jelas, pengalaman belajar yang bermakna, asesmen yang adil, evaluasi berbasis data, serta inovasi yang tetap menjaga ruh tarbiyah Qur’ani. Inilah daya tarik utama buku karya Akhmad Shunhaji ini. Buku ini tidak sekadar membicarakan cara mengajarkan Al-Qur’an, tetapi mengajak pembaca memikirkan keseluruhan sistem pendidikan yang berada di balik proses tersebut. Pembaca diajak mempertanyakan bukan hanya apa yang diajarkan, tetapi juga mengapa materi itu diajarkan, bagaimana prosesnya dirancang, bagaimana hasilnya dinilai, dan bagaimana kekurangannya diperbaiki. Dengan demikian, kurikulum tidak lagi dipahami sebagai tumpukan dokumen administratif, daftar materi, jadwal pelajaran, atau angka target hafalan. Kurikulum ditempatkan sebagai peta besar yang menentukan tujuan, mutu layanan, pengalaman belajar, dan arah perkembangan peserta didik. Dari Landasan Teoretis Menuju Persoalan Nyata Pembahasan buku ini disusun secara bertahap dan runtut. Pembaca terlebih dahulu diperkenalkan pada posisi dan ruang lingkup manajemen kurikulum pendidikan Al-Qur’an. Setelah itu, pembahasan bergerak menuju landasan Outcome-Based Education atau OBE, analisis kebutuhan lembaga, perumusan profil lulusan dan capaian pembelajaran, desain struktur kurikulum, pengembangan pengalaman belajar, inovasi metode dan media, implementasi, asesmen autentik, evaluasi, kebijakan kurikulum, studi kasus, hingga proyek akhir berbasis artefak. Urutan tersebut menjadikan buku ini bukan sekadar kumpulan teori yang berdiri sendiri. Setiap bab menjadi bagian dari satu alur pemikiran: masalah lembaga harus dibaca terlebih dahulu, kemudian diterjemahkan menjadi capaian pembelajaran, struktur kurikulum, metode, asesmen, evaluasi, dan keputusan perbaikan. Pendekatan ini penting karena banyak lembaga pendidikan terkadang langsung memilih metode, membeli media, atau menambah program sebelum memahami masalah yang sesungguhnya. Buku ini justru mengingatkan bahwa inovasi yang baik bukanlah sesuatu yang hanya tampak baru atau modern. Inovasi harus menjawab kebutuhan nyata, membantu tercapainya tujuan pembelajaran, sesuai dengan karakter santri, dan realistis untuk dijalankan oleh lembaga. Memadukan Ketegasan Sistem dengan Kehangatan Nilai Hal yang membedakan buku ini dari buku manajemen kurikulum pada umumnya ialah keberhasilannya memadukan pendekatan akademik dengan nilai-nilai Qur’ani dan paradigma Manajemen Cinta. Dalam kerangka tersebut, pendidikan yang baik tidak cukup hanya rapi secara administrasi dan terukur secara akademik. Pendidikan juga harus menghargai martabat manusia, menghadirkan keadilan, membangun kasih sayang, memperkuat keteladanan, dan berpihak pada pertumbuhan peserta didik. Karena itu, target pembelajaran tidak boleh dicapai dengan mengabaikan kondisi santri. Jadwal yang disiplin belum tentu sehat apabila membuat peserta didik kelelahan. Asesmen yang menghasilkan angka belum tentu adil apabila tidak membaca perkembangan individual. Begitu pula inovasi berbasis teknologi belum tentu bermanfaat apabila justru menjauhkan pembelajaran dari tujuan dan nilai-nilai Qur’ani. Buku ini berhasil mempertemukan dua hal yang sering dipisahkan: ketegasan sistem dan kehangatan pendidikan. Kurikulum harus jelas, terukur, dan berbasis bukti, tetapi pelaksanaannya tetap harus manusiawi. Studi Kasus yang Dekat dengan Kehidupan Lembaga Kekuatan lain buku ini terletak pada penggunaan studi kasus yang relevan dengan persoalan nyata. Pada kasus TPQ atau RTQ, misalnya, pembaca diperlihatkan persoalan waktu belajar yang terbatas, kemampuan santri yang beragam, target pembelajaran yang terlalu padat, ketidaksamaan standar guru, dan dukungan orang tua yang tidak selalu merata. Solusi yang ditawarkan bukan menambah semakin banyak program, melainkan memperjelas prioritas, menata kelompok belajar berdasarkan kemampuan, dan menetapkan perangkat minimum yang digunakan secara konsisten oleh seluruh guru. Pada kasus rumah tahfizh, buku ini membahas ketegangan antara banyaknya hafalan baru dan lemahnya muraja’ah. Keberhasilan tidak seharusnya hanya dinilai dari jumlah ayat atau juz yang berhasil disetorkan, tetapi juga dari kestabilan hafalan, kualitas bacaan, kedisiplinan belajar, dan kemampuan menjaga hafalan lama. Adapun dalam kasus pesantren tahfizh, buku ini mengangkat persoalan yang lebih kompleks: jadwal terlalu padat, kelelahan belajar, disiplin yang hanya berjalan ketika diawasi, terbatasnya ruang refleksi, serta ketidakseimbangan antara target hafalan, pembinaan adab, dan kehidupan santri. Buku ini mengingatkan bahwa jadwal yang baik bukanlah jadwal yang paling penuh, melainkan jadwal yang paling mendukung pertumbuhan. Studi-studi kasus tersebut membuat pembaca tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa teorinya?” Pembaca didorong untuk bertanya, “Bagaimana teori ini digunakan ketika lembaga menghadapi persoalan nyata?” Bukan Sekadar Dibaca, tetapi Digunakan Orientasi praktis buku ini semakin terlihat melalui empat luaran utama yang diarahkan kepada pembaca, yaitu: 1. dokumen kurikulum pembelajaran Al-Qur’an berbasis CPL dan OBE; 2. rancangan inovasi metode atau media pembelajaran; 3. instrumen asesmen autentik; 4. rekomendasi kebijakan kurikulum bagi lembaga pendidikan Al-Qur’an. Keempatnya menunjukkan bahwa pembaca tidak diarahkan hanya untuk memahami istilah dan konsep, tetapi juga menghasilkan karya yang dapat diperiksa, digunakan, diuji, dan dikembangkan oleh lembaga. Pendekatan berbasis artefak seperti ini membuat buku tersebut sangat berguna sebagai buku ajar, panduan diskusi, bahan evaluasi lembaga, maupun pegangan dalam menyusun ulang kurikulum pendidikan Al-Qur’an. Kelebihan dan Catatan Kritis Buku ini memiliki beberapa kelebihan menonjol. Pembahasannya sistematis, cakupannya luas, bahasanya relatif ringan untuk ukuran buku akademik, serta mampu menghubungkan teori, nilai, dan praktik kelembagaan. Kehadiran OBE, asesmen autentik, evidence, evaluasi berbasis data, Manajemen Cinta, dan studi kasus menjadikan pembahasannya relevan dengan kebutuhan pendidikan Al-Qur’an masa kini. Namun, keluasan cakupannya juga menjadi tantangan tersendiri. Pembaca yang belum terbiasa dengan istilah seperti CPL, CPMK, OBE, evidence, asesmen autentik, dan policy brief mungkin perlu membaca beberapa bagian secara perlahan. Karena buku ini berusaha menjangkau banyak aspek sekaligus, pembaca yang menginginkan pembahasan sangat teknis mengenai satu metode mengajar, tahsin, tahfizh, atau teknologi tertentu tetap memerlukan referensi pendamping. Hal tersebut bukan kelemahan mendasar, melainkan konsekuensi dari posisi buku ini sebagai panduan manajemen kurikulum yang bersifat menyeluruh. Penutup Manajemen Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran Al-Qur’an layak dibaca oleh mahasiswa, dosen, ustaz, guru, pengelola TPQ dan RTQ, rumah tahfizh, pesantren tahfizh, madrasah Qur’ani, serta pemerhati pendidikan Islam. Sasaran pembacanya memang luas karena persoalan yang dibicarakan tidak hanya terjadi di ruang perkuliahan, tetapi juga di berbagai lembaga pendidikan Al-Qur’an. Buku ini pada akhirnya membawa satu pesan penting: keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak cukup diukur dari seberapa cepat materi selesai atau seberapa banyak hafalan terkumpul. Keberhasilannya juga terlihat dari kuatnya bacaan, terjaganya hafalan, tumbuhnya adab, sehatnya pengalaman belajar, serta semakin dekatnya peserta didik dengan Al-Qur’an. Karena itu, buku ini bukan hanya menawarkan cara menyusun kurikulum. Ia mengajak pembaca menata kembali cara berpikir tentang pendidikan Al-Qur’an—dari pendidikan yang sekadar menjalankan kegiatan menuju pendidikan yang sadar tujuan, terukur hasilnya, hangat prosesnya, dan terus diperbaiki dengan penuh tanggung jawab.

Beli buku
Akhmad Shunhaji2026

Tentang buku

Ketika Mencintai Nabi Tidak Cukup Hanya dengan Mengagumi Di zaman ketika ceramah dapat didengar kapan saja, ayat dan hadis mudah dibagikan, serta nasihat agama memenuhi media sosial, muncul sebuah pertanyaan yang cukup mengusik: mengapa manusia masih mudah marah, gemar merendahkan, sulit memaafkan, dan begitu ringan melukai orang lain melalui kata-kata? Pertanyaan inilah yang membuat buku Menjadi Pribadi Seindah Akhlak Nabi terasa dekat dengan kehidupan pembaca masa kini. Buku ini berangkat dari kegelisahan bahwa bertambahnya pengetahuan agama ternyata tidak selalu diikuti oleh membaiknya akhlak. Ukuran keberagamaan bukan hanya seberapa banyak seseorang mengetahui ajaran Islam, tetapi juga seberapa nyata ajaran itu terlihat dalam cara ia berbicara, bersikap, memperlakukan orang lain, dan mengendalikan dirinya. Bukan Sekadar Buku tentang Nabi Kekuatan utama buku ini terletak pada sudut pandangnya. Rasulullah ﷺ tidak hanya diperkenalkan sebagai tokoh agung dalam sejarah, tetapi sebagai cermin hidup untuk melihat diri sendiri. Pembaca tidak hanya diajak bertanya, “Seindah apa akhlak Rasulullah?”, tetapi juga: Sudahkah lisanku lebih santun? Sudahkah aku lebih amanah? Sudahkah aku mampu menahan marah? Sudahkah aku tetap rendah hati ketika dipuji? Sudahkah aku tenang ketika disakiti? Dengan pendekatan tersebut, buku ini tidak menciptakan jarak antara kisah Nabi dan kehidupan pembaca. Keteladanan Rasulullah ﷺ dibawa masuk ke ruang keluarga, tempat kerja, lembaga pendidikan, aktivitas dakwah, kepemimpinan, pergaulan sosial, hingga dunia digital. Inilah yang menjadikan buku ini terasa relevan. Persoalan akhlak tidak lagi dibahas secara abstrak, tetapi dihubungkan dengan kejadian sehari-hari: komentar kasar di media sosial, informasi yang dibagikan tanpa tabayun, kebiasaan mempermalukan orang yang bersalah, persaingan yang melahirkan iri, tuntutan hidup yang menghilangkan ketenangan, serta hubungan keluarga yang dipenuhi ego. Dari Dalil Menuju Perubahan Nyata Banyak buku keislaman kuat dalam dalil, tetapi terasa berat bagi pembaca umum. Ada pula buku motivasi yang sangat ringan, tetapi tidak memiliki fondasi keilmuan yang cukup. Buku ini berusaha mengambil jalan tengah melalui tiga lapisan pembahasan: dalil sebagai dasar, kisah Nabi sebagai cermin, dan refleksi sebagai jembatan menuju kehidupan nyata. Pola ini membuat pembaca tidak hanya mengetahui bahwa sabar, jujur, amanah, syukur, dan tawadhu‘ adalah akhlak mulia. Pembaca juga diperlihatkan bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam diri Rasulullah ﷺ, lalu diajak mempraktikkannya sesuai keadaan sekarang. Pembahasannya pun tersusun secara bertahap. Buku dimulai dengan fondasi tentang pentingnya kembali kepada akhlak Rasulullah ﷺ, lalu bergerak menuju kejujuran, amanah, kesabaran, syukur, tawadhu‘, kelembutan lisan, pengendalian marah, kasih sayang, pemaafan, rasa malu, wara‘, ketenangan jiwa, hingga latihan pembentukan akhlak dan doa-doa. Susunan ini memperlihatkan bahwa akhlak bukan kumpulan sifat yang berdiri sendiri. Kejujuran melahirkan kepercayaan. Amanah menjaga hubungan. Sabar mengendalikan reaksi. Syukur menjaga hati dari iri. Tawadhu‘ mencegah ilmu berubah menjadi kesombongan. Sementara ketenangan jiwa membuat seseorang tidak mudah dikendalikan oleh tekanan dunia. Ringan, tetapi Tidak Dangkal Bahasa yang digunakan cenderung hangat dan komunikatif. Pembaca tidak ditempatkan sebagai terdakwa yang terus-menerus disalahkan, melainkan sebagai manusia yang sedang belajar. Ada hari ketika seseorang berhasil menahan marah, tetapi pada hari lain kembali tergelincir. Ada saat ia mampu berkata lembut, tetapi kemudian menyesali kata-kata tajamnya. Buku ini memahami bahwa memperbaiki akhlak merupakan perjalanan panjang, bukan perubahan instan. Karena itu, nadanya lebih banyak menemani daripada menghakimi. Pendekatan tersebut penting. Nasihat yang terlalu keras sering membuat pembaca merasa jauh dari kesempurnaan Nabi. Sebaliknya, buku ini menampilkan keteladanan Rasulullah ﷺ sebagai cahaya penunjuk arah: bukan untuk membuat manusia putus asa, tetapi agar manusia mengetahui ke mana ia harus melangkah. Sangat Relevan dengan Dunia Digital Salah satu nilai tambah buku ini adalah keberaniannya membawa pembahasan akhlak ke ruang digital. Menjaga lisan kini bukan hanya soal ucapan, tetapi juga tulisan, komentar, unggahan, dan pesan yang diteruskan. Buku ini mengajak pembaca berhenti sejenak sebelum membagikan sesuatu: apakah informasinya benar, apakah komentarnya bermanfaat, apakah kritiknya disampaikan dengan adab, dan apakah perkataan itu sanggup dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pesan tersebut sangat aktual. Hari ini, satu kalimat dapat melukai ribuan orang. Satu potongan video dapat merusak nama seseorang. Satu tuduhan tanpa bukti dapat berubah menjadi dosa yang terus menyebar. Karena itu, akhlak Nabi bukan hanya diperlukan di masjid dan majelis ilmu, tetapi juga di kolom komentar, grup percakapan, ruang rapat, kelas, dan rumah. Buku untuk Bercermin, Bukan Sekadar Dibaca Walaupun jumlah halamannya cukup tebal, buku ini tidak harus dibaca terburu-buru dari awal sampai akhir. Setiap tema dapat menjadi bahan renungan tersendiri, bahan kajian majelis taklim, diskusi keluarga, pembinaan santri dan mahasiswa, maupun latihan pribadi. Sasaran pembacanya memang luas: masyarakat umum, pendidik, aktivis dakwah, keluarga Muslim, hingga pemimpin lembaga. Pada akhirnya, daya tarik terbesar buku ini bukan karena ia hanya menceritakan betapa mulianya Rasulullah ﷺ. Buku ini mengingatkan bahwa cinta kepada Nabi harus meninggalkan bekas dalam perilaku. Bershalawat kepada Nabi adalah kemuliaan. Mengagumi kelembutan beliau adalah kebaikan. Menangis ketika mendengar kisah perjuangan beliau adalah tanda cinta. Namun, cinta itu menjadi lebih nyata ketika seseorang mulai menjaga lisannya, menunaikan amanah, meredakan kemarahan, memaafkan satu luka, dan memperlakukan manusia dengan lebih lembut. Buku ini tidak menjanjikan pembaca akan menjadi sempurna setelah menutup halaman terakhirnya. Ia menawarkan sesuatu yang lebih jujur dan lebih mungkin dilakukan: memulai perubahan dari satu akhlak kecil, satu kebiasaan baik, dan satu langkah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Karena menjadi seindah akhlak Nabi bukanlah tentang berhasil menyerupai kesempurnaan beliau dalam sehari. Ia adalah perjalanan seumur hidup—dari mengagumi Nabi, mencintai Nabi, lalu perlahan belajar hidup dengan akhlak yang beliau teladankan.

Beli buku
Akhmad Shunhaji2026

Tentang buku

Ada lelah yang selesai setelah tubuh beristirahat. Namun, ada pula lelah yang tetap tinggal meskipun kita sudah tidur cukup. Tubuh mungkin berhenti bekerja, tetapi pikiran masih berlari. Hati masih menyimpan kecewa, tuntutan hidup belum mereda, dan perasaan tertinggal terus datang setiap kali melihat kehidupan orang lain. Kita terlihat baik-baik saja, tetap bekerja, mengurus keluarga, memenuhi kewajiban, dan menjalani hari seperti biasa. Akan tetapi, jauh di dalam diri, ada bagian yang diam-diam sedang meminta ruang untuk bernapas. Buku Tenang di Zaman Capek berangkat dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan banyak orang: kelelahan yang tidak hanya dirasakan oleh tubuh, tetapi juga oleh pikiran, emosi, hubungan, dan ruhani. Buku ini tidak menganggap lelah sebagai tanda kelemahan. Lelah adalah bagian dari perjalanan manusia. Yang perlu dipelajari bukan cara menjadi kuat setiap saat, melainkan cara mengenali batas, mengelola reaksi, memperbaiki ritme hidup, dan menemukan jalan pulang ketika hati mulai kehilangan arah. Ketenangan yang dibicarakan dalam buku ini bukan keadaan tanpa masalah. Hidup tetap dapat dipenuhi pekerjaan, tanggung jawab, konflik, kehilangan, perubahan, dan berbagai hal yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tenang juga bukan berarti menutup mata terhadap luka atau memaksa diri menerima semua keadaan tanpa ikhtiar. Ketenangan adalah kemampuan menjaga hati agar tidak ikut hancur ketika kehidupan sedang berat. Ia tumbuh melalui kesediaan untuk berhenti sejenak, mengenali apa yang sebenarnya dirasakan, menata niat, menjaga adab, memperbaiki hubungan, serta kembali menyandarkan diri kepada Allah. Pembahasan buku ini dimulai dari ruang yang paling dekat: rumah tangga. Banyak hubungan tidak kehilangan cinta, tetapi kehilangan tenaga untuk mengekspresikannya. Percakapan berubah menjadi urusan jadwal, pekerjaan, biaya, dan kewajiban. Konflik kecil mudah membesar karena dua orang yang sama-sama lelah tidak lagi mempunyai cukup ruang untuk memahami. Karena itu, ketenangan di rumah tidak dibangun melalui romantisme yang terus-menerus, melainkan melalui adab berbicara, keberanian meminta maaf, pembagian beban yang adil, kebiasaan memberi jeda, dan kesediaan kembali berdamai setelah terjadi kesalahan. Dari rumah tangga, pembahasan bergerak menuju dunia pengasuhan. Di tengah melimpahnya hiburan digital, anak-anak belum tentu kekurangan tontonan, tetapi bisa saja kekurangan kehadiran. Buku ini mengajak orang tua melihat bahwa persoalan gawai tidak cukup diselesaikan dengan larangan. Anak memerlukan aturan yang jelas, keteladanan, pendampingan, kasih sayang, dan hubungan yang membuatnya merasa aman. Disiplin tidak diarahkan untuk melukai atau mempermalukan, melainkan untuk membantu anak mengenal batas dan belajar mengelola dirinya. Buku ini juga menyentuh wilayah yang sering disembunyikan: luka masa kecil yang masih memengaruhi kehidupan dewasa. Ada kemarahan yang ternyata berasal dari pengalaman lama. Ada ketakutan ditinggalkan yang membuat seseorang menjadi terlalu menuntut. Ada kebutuhan akan pengakuan yang tumbuh karena dahulu merasa kurang dihargai. Luka semacam itu tidak cukup diminta untuk dilupakan. Ia perlu dikenali, dipahami, dibersihkan, dan ditata melalui proses yang jujur. Memaafkan pun tidak disamakan dengan membenarkan perlakuan yang salah. Memaafkan adalah bagian dari usaha membebaskan hati agar masa lalu tidak terus mengendalikan kehidupan hari ini. Di tengah kehidupan digital, manusia juga mudah menjadikan penilaian orang lain sebagai ukuran dirinya. Jumlah respons, pujian, pengakuan, pencapaian, dan penampilan perlahan menentukan apakah seseorang merasa cukup berharga. Hidup akhirnya berubah menjadi panggung yang melelahkan. Buku ini mengajak pembaca memindahkan kembali pusat nilai dirinya: dari pandangan manusia menuju penilaian Allah. Ikhlas tidak dibahas sebagai konsep yang jauh dari kehidupan, tetapi sebagai kemerdekaan batin—kemampuan berbuat baik tanpa harus terus-menerus dilihat, dipuji, atau dibenarkan oleh orang lain. Tema tersebut berlanjut pada budaya pamer, riya yang tidak disadari, perbandingan sosial, perasaan tertinggal, serta kebiasaan membagikan hampir semua hal kepada publik. Buku ini tidak mengajak pembaca meninggalkan media sosial, tetapi membangun “filter batin” agar teknologi tetap menjadi alat, bukan penguasa hati. Berbagi dapat tetap dilakukan, tetapi niat, manfaat, batas, dan dampaknya perlu diperiksa. Tidak semua nikmat harus dipertontonkan, tidak semua amal harus diketahui, dan tidak semua kebahagiaan memerlukan pengakuan dari luar. Kelelahan zaman juga tampak dalam cara manusia berbeda pendapat. Percakapan mudah berubah menjadi serangan, perbedaan menjadi permusuhan, dan keinginan membela kebenaran terkadang membuat adab ditinggalkan. Karena itu, buku ini membahas cara bersikap tegas tanpa menjadi kasar, menyampaikan pendapat tanpa merendahkan, dan menjaga lisan ketika emosi sedang tinggi. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Ada saatnya menjaga kehormatan orang lain lebih penting daripada memperoleh kemenangan sesaat. Persoalan lain yang dibicarakan adalah waktu yang terasa terus bocor. Seseorang dapat terlihat sangat sibuk, tetapi tetap merasa tidak menyelesaikan apa-apa. Banyak pekerjaan dilakukan, tetapi hati kehilangan arah. Buku ini mengajak pembaca menata prioritas, mengurangi hal-hal yang tidak perlu, membangun ritme yang manusiawi, dan menjadikan ibadah sebagai jangkar kehidupan. Produktif tidak selalu berarti melakukan lebih banyak. Kadang hidup menjadi lebih baik justru ketika kita berani memilih, menyederhanakan, dan mengerjakan yang benar-benar bermakna. Pada bagian berikutnya, syukur dibawa turun dari slogan menuju kebiasaan yang nyata. Bersyukur tidak berarti menolak kesedihan atau berpura-pura bahwa semua keadaan baik. Syukur yang sehat mampu mengakui masalah sambil tetap melihat nikmat yang masih ada. Ia melatih hati menikmati hal-hal sederhana yang sering terlewat: tubuh yang masih mampu bergerak, keluarga yang masih dapat disapa, makanan yang tersedia, kesempatan memperbaiki diri, dan doa yang masih dapat dipanjatkan. Sebagai penutup, buku ini menyediakan Toolkit Tenang 30 Hari. Bagian ini tidak dimaksudkan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan seluruh persoalan hidup. Ia menawarkan latihan-latihan kecil agar gagasan dalam buku tidak berhenti sebagai bacaan. Perubahan yang bertahan biasanya tidak lahir dari tekad besar sesaat, melainkan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan sadar dan terus diperbaiki. Buku ini tidak perlu dibaca dengan tergesa-gesa. Beberapa bagian mungkin terasa dekat, sementara bagian lain mungkin menyentuh pengalaman yang selama ini disimpan. Pembaca dapat berhenti, merenung, mencatat, lalu mencoba satu langkah kecil yang paling mungkin dilakukan. Tidak semua hal harus berubah sekaligus. Ada saatnya kemajuan berarti berani beristirahat. Ada saatnya keberanian berarti meminta maaf. Ada saatnya kedewasaan berarti tidak membalas. Ada pula saatnya jalan pulang dimulai hanya dengan satu doa yang jujur. Pada akhirnya, buku ini hadir bukan untuk mengajarkan bahwa manusia harus selalu tenang, melainkan untuk menemani proses belajar kembali tenang. Zaman boleh melelahkan. Hidup boleh berubah-ubah. Masalah mungkin belum seluruhnya selesai. Namun, hati tetap dapat ditata, hubungan masih dapat diperbaiki, langkah dapat diperlambat, dan manusia selalu memiliki jalan untuk kembali kepada Allah—pelan-pelan, tanpa harus berpura-pura kuat.

Beli buku
Akhmad Shunhaji2026

Tentang buku

Pendidikan sering dinilai melalui angka, kelulusan, akreditasi, kelengkapan administrasi, dan berbagai target kelembagaan. Semua itu penting, tetapi pendidikan tidak pernah hanya berurusan dengan dokumen dan capaian formal. Di dalamnya terdapat peserta didik yang sedang bertumbuh, guru yang mengabdikan ilmu dan tenaga, tenaga kependidikan yang menjaga layanan, orang tua yang menitipkan harapan, serta masyarakat yang menantikan lahirnya generasi berilmu dan beradab. Buku Manajemen Pendidikan Bermartabat: Dari Manajemen Cinta Menuju Tata Kelola Empatik, Adil, dan Terukur mengajak pembaca melihat kembali cara lembaga pendidikan memperlakukan manusia di dalam sistemnya. Pendidikan yang tertib tidak harus terasa kaku. Disiplin tidak perlu ditegakkan dengan mempermalukan. Evaluasi tidak semestinya menjadi alat untuk menjatuhkan. Data, teknologi, aturan, dan standar mutu tetap diperlukan, tetapi semuanya perlu digunakan secara adil, bijaksana, dan bertanggung jawab. Gagasan Manajemen Cinta dalam buku ini dikembangkan menjadi pendekatan tata kelola yang lebih luas dan operasional. Cinta tetap menjadi akar batin pendidikan, lalu diterjemahkan ke dalam kepemimpinan yang hadir dan peka, kebijakan yang adil, komunikasi yang menghormati, layanan yang melindungi, disiplin yang memulihkan, serta perbaikan mutu yang dapat diukur. Dengan demikian, nilai-nilai luhur tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi hadir dalam keputusan, budaya, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari lembaga pendidikan. Pembahasan buku ini bertumpu pada nilai karâmah al-insân, rahmah, keadilan, amanah, ihsan, dan musyawarah. Nilai-nilai tersebut dijabarkan melalui Model 6P—Presence, Predictability, Proportion, Participation, Progress, dan Protection—serta Siklus PDLR, yaitu Plan, Do, Lead, dan Review. Keduanya membantu lembaga menghubungkan kepedulian terhadap manusia dengan ketegasan sistem dan perbaikan mutu yang berkelanjutan. Berbagai persoalan nyata juga dibahas secara dekat dan praktis: kepemimpinan, pengelolaan guru dan tenaga kependidikan, layanan peserta didik, disiplin restoratif, pencegahan perundungan, budaya lembaga, komunikasi dengan orang tua, pengelolaan konflik, pembelajaran, keuangan, sarana, teknologi, kecerdasan buatan, hingga perlindungan data. Buku ini dilengkapi dengan rubrik, daftar periksa, survei singkat, contoh prosedur layanan, audit komunikasi, rencana aksi 90 hari, dan format evaluasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan lembaga. Buku ini tidak menawarkan jalan perubahan yang serba cepat atau sederhana. Ia mengajak sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi memulai dari langkah-langkah yang mungkin dilakukan: mendengar dengan lebih sungguh-sungguh, memperbaiki aturan yang tidak adil, membangun layanan yang manusiawi, membaca data secara bijak, dan belajar dari pengalaman. Sebab pendidikan yang bermutu bukan hanya mampu menghasilkan peserta didik yang cerdas dan berprestasi. Pendidikan juga perlu menumbuhkan rasa aman, tanggung jawab, kepercayaan, adab, dan kebermanfaatan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan tidak cukup hanya diajarkan dengan baik. Pendidikan perlu dikelola dengan bermartabat.

Beli buku