CIPTA PUISI ISLAMI: Menggali Keindahan Kata dari Ayat Al-Qur’an dan Hadis

CIPTA PUISI ISLAMI: Menggali Keindahan Kata dari Ayat Al-Qur’an dan Hadis

Terbit 2026

Ketika Kata Bukan Sekadar Indah, tetapi Menjadi Jalan Pulang Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan kembali di rak. Ada pula buku yang membuat kita berhenti sejenak, memikirkan diri sendiri, lalu bertanya: Sudahkah kata-kata yang saya ucapkan dan tuliskan membawa kebaikan? CIPTA PUISI ISLAMI: Menggali Keindahan Kata dari Ayat Al-Qur’an dan Hadis karya Akhmad Shunhaji termasuk buku jenis kedua. Sesuai judul dan arah yang ditegaskan penulis sejak awal, buku ini tidak sekadar berbicara tentang bagaimana membuat puisi bernuansa agama, tetapi mengajak pembaca memahami bagaimana keindahan bahasa dapat tumbuh dari perenungan terhadap Al-Qur’an, hadis, pengalaman iman, dan kehidupan sehari-hari. Hal yang membuat buku ini menarik adalah pendekatannya yang ringan tetapi tidak dangkal. Pembaca tidak langsung dibebani teori sastra yang rumit. Kita justru diajak masuk melalui pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan: rasa bersalah, harapan, kehilangan, doa, sujud, kasih kepada orang tua, suara azan, hujan, sajadah, perjalanan pulang, hingga kegelisahan seorang manusia yang ingin menjadi lebih baik. Buku ini seperti ingin mengatakan bahwa puisi Islami tidak harus dipenuhi istilah-istilah agama agar terasa Islami. Sebuah puisi dapat berbicara tentang tangan ibu yang mulai gemetar, seorang anak yang berbagi makanan, seseorang yang menunda shalat, atau manusia yang sedang berusaha pulang dari kesalahannya. Selama nilai, arah, dan pesannya membawa manusia kepada kebaikan, di situlah ruh keislamannya hadir. Penulis menekankan bahwa puisi Islami harus lahir dari pemahaman yang benar, niat yang baik, kejujuran rasa, dan tanggung jawab terhadap kata-kata. Inilah salah satu kekuatan utama buku ini: ia tidak menjadikan puisi sebagai ceramah yang dipotong-potong menjadi beberapa baris. Alih-alih hanya menulis, “Kita harus rajin shalat”, misalnya, pembaca diajak belajar menghadirkan pengalaman, suasana, dan perasaan. Nasihat tidak sekadar diberitahukan, tetapi dibuat terasa. Sebab penulis memahami bahwa kadang satu gambaran sederhana mampu mengetuk hati lebih kuat daripada uraian yang panjang. Buku ini juga mempunyai sikap yang sangat jelas terhadap Al-Qur’an dan hadis. Ayat Al-Qur’an tidak diperlakukan sebagai bahan permainan kata, dan hadis tidak dipaksakan agar sesuai dengan keinginan penyair. Pembaca justru diajak memahami pesan terlebih dahulu, merasakan kedalamannya, kemudian mengungkapkannya dengan bahasa yang indah. Pendekatan seperti ini membuat CIPTA PUISI ISLAMI terasa bukan hanya sebagai buku sastra, tetapi juga sebagai buku latihan kepekaan. Kepekaan terhadap kata. Kepekaan terhadap kehidupan. Kepekaan terhadap orang lain. Dan yang paling penting, kepekaan terhadap hubungan manusia dengan Allah. Menariknya lagi, buku ini sangat praktis. Pembaca tidak berhenti pada pembahasan mengenai pengertian puisi. Di dalamnya dibahas bagaimana menemukan gagasan, menentukan emosi, memilih suasana, membangun simbol, menggunakan citraan, metafora, diksi, irama, rima, menyusun pembuka dan penutup, sampai menyunting puisi tanpa menghilangkan “jiwanya”. Buku ini bahkan membawa pembaca melalui proses dari sumber, pesan, rasa, gambar, hingga akhirnya menjadi puisi. Karena itu, buku ini tidak terasa seperti buku yang berkata, “Beginilah puisi yang bagus.” Sebaliknya, ia seperti seorang pendamping yang berkata: “Mari kita coba. Mari kita rasakan. Mari kita tuliskan. Lalu mari kita perbaiki bersama." Ada penjelasan, ada contoh, ada latihan, ada tugas, ada renungan, dan ada proses penyuntingan. Struktur seperti ini membuat pembaca bukan hanya mengetahui cara menulis puisi, tetapi perlahan-lahan berani menciptakan puisinya sendiri. Lebih menarik lagi, pembahasan buku bergerak dari teknik menuju wilayah yang semakin dekat dengan pengalaman spiritual. Pembaca diajak menulis tentang hubungan manusia dengan Allah—tentang tauhid, syukur, takut, harap, tawakal, doa, dan pertobatan—kemudian memasuki tema cinta kepada Rasulullah ﷺ dan berbagai pengalaman ibadah seperti azan, wudu, shalat, puasa, zakat, sedekah, dan haji. Namun buku ini tidak mendorong pembaca untuk tampil seolah-olah paling saleh. Justru ada pesan yang sangat kuat: menulis puisi Islami bukanlah perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling suci. Ketika menulis tentang orang yang lalai, kita diingatkan bahwa kita pun pernah lalai. Ketika menulis tentang dosa, kita diingatkan bahwa kita juga membutuhkan ampunan. Ketika menulis tentang penderitaan, kita diminta tidak meremehkan luka orang lain. Penulis mengajak pembaca menulis sebagai seorang hamba yang sedang belajar, bukan sebagai hakim yang merasa mengetahui semuanya. Pesan ini membuat buku tersebut terasa sangat manusiawi. Ia tidak mengajak kita menutupi kegelisahan dengan kata-kata religius. Kesedihan tetap boleh hadir. Penyesalan boleh diceritakan. Kehilangan boleh ditangisi. Keraguan, kegagalan, dan kelemahan manusia tidak harus disembunyikan. Tetapi semua itu diarahkan agar manusia tidak berhenti pada luka. Ada ruang untuk kembali. Ada ruang untuk berharap. Ada ruang untuk memperbaiki diri. Itulah sebabnya buku ini akan menarik bukan hanya bagi mereka yang sudah gemar menulis puisi. Pelajar dapat menggunakannya untuk belajar mengekspresikan perasaan. Mahasiswa dapat menemukan cara baru membaca pengalaman kehidupan. Guru dapat memanfaatkannya untuk pembelajaran sastra dan karakter. Santri dapat menjadikannya ruang kreativitas yang tetap menjaga adab terhadap sumber agama. Pendakwah dapat belajar bagaimana menyampaikan pesan dengan lebih menyentuh. Bahkan orang yang merasa dirinya tidak bisa membuat puisi tetap dapat mengikuti buku ini karena pembahasannya dibangun secara bertahap dan disertai contoh serta latihan. Buku ini memang ditujukan untuk pembaca dari berbagai latar belakang, tanpa menuntut pengalaman khusus dalam menulis. Ada satu gagasan yang mungkin paling membekas setelah membaca bagian-bagian buku ini: Kata yang baik seharusnya terlebih dahulu menyentuh penulisnya sebelum menyentuh pembacanya. Karena itu, CIPTA PUISI ISLAMI sebenarnya bukan sekadar buku tentang cara merangkai kata. Ia adalah ajakan untuk belajar melihat kehidupan dengan lebih dalam. Melihat sajadah bukan hanya sebagai alas shalat, tetapi sebagai saksi kepulangan seorang hamba. Melihat hujan bukan hanya sebagai air yang turun dari langit, tetapi mungkin sebagai lambang rahmat dan harapan. Melihat tangan ibu yang mulai keriput bukan sekadar tanda usia, tetapi pengingat tentang cinta yang selama ini mungkin terlalu kita anggap biasa. Melihat azan bukan hanya sebagai suara yang terdengar lima kali sehari, tetapi sebagai panggilan yang terus datang meskipun manusia berkali-kali menjawab, "nanti.” Di titik itulah buku ini menemukan kekuatannya. Ia membuat hal-hal yang selama ini biasa kita lihat menjadi layak direnungkan kembali. Dan barangkali setelah membaca buku ini, seseorang tidak hanya akan mulai menulis puisi. Ia mungkin mulai lebih pelan ketika membaca ayat. Lebih lama ketika merenungkan sebuah hadis. Lebih peka ketika melihat orang lain terluka. Lebih sadar ketika mendengar azan. Lebih bersyukur ketika melihat hal-hal sederhana. Dan lebih berhati-hati ketika memilih kata. Sebab sebagaimana semangat yang dibangun buku ini, kata bukan hanya bunyi yang selesai ketika diucapkan. Kata dapat menjadi jendela yang memperlihatkan jalan pulang. Maka, jika Anda mencari buku yang mengajarkan puisi sekaligus mengajak hati ikut belajar, CIPTA PUISI ISLAMI karya Akhmad Shunhaji layak dibaca sampai halaman terakhir. Bukan hanya untuk mengetahui **bagaimana menciptakan puisi Islami**, tetapi untuk menemukan sesuatu yang lebih penting: bagaimana membuat kata menjadi indah tanpa kehilangan kebenaran, membuat pesan menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan, dan menjadikan tulisan bukan sekadar karya—tetapi juga ruang untuk merenung, bertumbuh, dan mendekat kepada Allah.