
Pernah ketemu orang yang hobi bikin caption "Self-Made Millionaire" sambil cerita seolah-olah dia lahir langsung bisa jualan saham, tanpa pernah popoknya digantiin orang lain? Narasi "sukses karena usaha sendiri 100%" itu sebetulnya mirip kayak ngaku bikin mi instan dari nol—padahal gandumnya diimpor, bumbunya diracik pabrik, dan kompornya dapet hadiah kupon jalan sehat.
Realitasnya, tidak ada orang yang benar-benar berdiri sendiri di puncak. Di balik satu orang yang berhasil presentasi mulus di depan bos, ada support system tak kasat mata yang jasanya luar biasa:
Ibu Kantin: Sosok penyelamat yang rela ngutangin gorengan pas dompet kita lagi koma di akhir bulan.
Teman "Hotspot": Malaikat tanpa sayap yang rela kuotanya disedot habis-habisan demi kita bisa submit berkas jam 23.59.
Abang Ojol: Pahlawan penerobos kemacetan yang memastikan kopi literan sampai sebelum syaraf otak kita konslet pas deadline.
Doa Orang Tua: Jalur langit yang bikin kita lolos wawancara kerja, padahal jawaban kita pas interview rada ngawur.
Lalu, kenapa sebagian orang gampang kena sindrom lupa daratan pas sudah di atas? Dalam psikologi, ada yang namanya self-serving bias. Kalau sukses, otak kita refleks bilang, "Ini murni karena gue jenius dan kerja keras!" Tapi kalau gagal, kita bakal refleks nyalahin cuaca, konspirasi planet, atau kucing tetangga yang mendadak lewat. Ego manusia memang hobi mencuri panggung.
Merayakan pencapaian diri itu wajib, tapi mengklaim kamu bertarung sendirian adalah pembohongan publik. Mengakui peran orang lain—mulai dari mentor, rekan tim, sampai tukang parkir yang bantu kamu nyebrang—tidak akan bikin prestasimu berkurang. Malah, orang yang tahu cara berterima kasih itu kelihatan jauh lebih berkelas ketimbang yang berlagak paling hebat se-alam semesta.
Jadi, kalau besok kamu berhasil mencapai milestone baru, coba tengok ke belakang. Traktir kopi teman yang dulu dengerin curhatan galaumu pas merintis karir, atau minimal ucapkan terima kasih yang tulus. Sukses sendirian itu cuma mitos, tapi sukses bareng-bareng sambil tetap membumi itu baru keren.
Your email address will not be published. Required fields are marked *