
Pernah enggak sih, kamu sudah merawat diri bak sultan: minum vitamin C dari A sampai Z, makan sayur organik yang harganya bikin dompet menangis, plus disiplin minum air putih dua liter sehari, tapi pas Jumat malam malah tumbang kena greges?
Rasa-rasanya ingin protes sama takdir: "Gusti, saya ini kurang ikhtiar apa? Suplemen mahal sudah saya telan, kok malah meriang?"
Nah, di situlah letak kelucuan kita sebagai manusia. Kita sering lupa kalau badan ini bukan sepeda motor yang asal diisi bensin bagus bakal jalan terus tanpa mogok. Kadang kita memperlakukan tubuh dan doa seperti transaksi kasir minimarket: "Saya sudah bayar pakai vitamin mahal dan gaya hidup sehat, mana garansi enggak boleh sakitnya?"
Padahal kalau kata para kiai di pesantren, ikhtiar itu sifatnya wajib, tapi hasil itu murni hak prerogatif Allah. Tugas kita cuma nawaitu berusaha, selebihnya ya sami'na wa ato'na alias pasrah. Kalau Gusti Allah sudah dawuh, "Hari ini kamu istirahat dulu, Le," ya mau kamu minum minyak ikan satu akuarium pun, sarung dan selimut bakal tetap nempel di badan.
Sakit itu sebenarnya bentuk kasih sayang Allah yang paling sopan buat menyentil kesombongan kecil kita. Saat kita merasa paling produktif, paling tangguh, dan merasa kantor bakal hancur kalau kita enggak masuk, tiba-tiba kena angin duduk. Seketika, pangkat 'manusia super' luntur, diganti status baru: pasien kerokan. Punggung yang biasanya tegap langsung terukir indah "jalur naga" merah membara hasil garukan koin seribuan campur minyak kayu putih.
Di sinilah indahnya belajar ikhlas. Ikhlas itu bukan menyerah pasrah tanpa usaha, tapi tahu diri. Kalau sudah ikhtiar maksimal dari jalur medis sampai jalur minum herbal, lalu tetap sakit, ya terima saja. Selonjoran, nikmati teh hangat, dan tidur. Sakit itu cara Allah memeluk kita untuk pause sejenak tanpa perlu merasa bersalah sama urusan dunia.
Lagipula, sehat itu anugerah, sakit juga pelebur dosa—asal pas sakit enggak kebanyakan bikin status galau di media sosial. Jadi, kalau besok kamu tumbang padahal botol vitamin sudah kosong, senyum saja. Tarik selimut dan berbisik pelan: "Nggih, Gusti... maturnuwun, waktunya kulo rebahan."
Your email address will not be published. Required fields are marked *