
Pernah gak sih kamu merasa hidup ini penuh dengan janji-janji manis yang menguap begitu saja? Dan anehnya, korban janji manis ini ternyata bukan cuma anak muda yang lagi kasmaran, tapi melintas generasi—mulai dari tingkatan Emak-emak kompleks sampai Bapak-bapak pos ronda!
Janji Manis Dunia Persilatan Emak-Emak & Bapak-Bapak
Mari kita absen dulu beberapa episode "Janji Tinggal Janji" yang sangat akrab di telinga kita sehari-hari:
Versi Emak-Emak:
"Duh Jeng, pinjem Tupperware-nya dulu ya buat wadah berkat. Besok lusa pas arisan tak balikin, suwer!"
Kenyataan: Sampai anak si Jeng lulus kuliah dan punya anak lagi, itu wadah plastik Oren legendaris tak kunjung kembali. Chat WA cuma dibaca, di-sindir di status stories malah kita yang diblokir. Runtuh sudah separuh jiwa Emak!
Versi Suami ke Istri:
"Tenang Ma, hari Minggu Papa benerin kran dapur yang bocor itu. Gampang!"
Kenyataan: Hari Minggu tiba, Si Papa malah menempel erat di kasur sambil nonton hilal liga inggris, lalu ketiduran sampai Maghrib dengan alasan "masuk angin". Kran air? Masih ngocor bagai air terjun Niagaraku.
Versi Bapak-Bapak Pos Ronda:
"Pak RT, santai... Kerja bakti minggu depan saya yang bagian nyediain kopi sama gorengan hangat dua tampah!"
Kenyataan: Pas hari H kerja bakti, beliau mendadak silent reader di grup WA, hilang dari peradaban, dan baru muncul H+1 dengan alasan klasik: "Aduh maaf Pak RT, semalam asam urat saya kumat mendadak..."
Efek Samping Kecewa: Sindiran Berantai di Status WA
Kalau janji-janji di atas meleset, apa yang terjadi? Tentu saja perang dingin lokal!
Emak-emak langsung pasang foto pemandangan dengan tulisan huruf kapital warna-warni di Status WhatsApp:
"Belajar ikhlas itu berat, apalagi ngikhlasin orang yang pura-pura lupa janji. Biar Allah yang membalas!"
Sementara Bapak-bapak memilih jalur pouty silence alias ngembek diam-diam sambil ngelamun di teras, melintir kumis, seraya mendoakan dalam hati agar ban motor temannya yang ingkar janji itu kena paku payung. Wkwk, receh tapi nyata!
Mengapa Kita Gampang Kecewa? (Spoiler: Salah Tempat Nyender!)
Jujur ya Mak, Pak... kita sering banget emosi jiwa dan emosi raga gara-gara manusia. Padahal kalau dipikir-pikir pake logika sehat: Mengharapkan pertolongan 100% dari sesama manusia itu ibarat nyenderin badan ke panci tempat rebusan mie yang masih panas. Ya pasti melepuh!
Manusia itu—termasuk suami, istri, tetangga sebelah, atau temen arisan—adalah makhluk yang:
Gampang kena serangan mager (malas bergerak).
Gampang lupa karena kebanyakan mikirin cicilan.
Bisa mendadak encok atau asam urat tanpa pemberitahuan.
Lantas, kenapa kita menggantungkan harapan dan pertolongan sama makhluk yang kalau kena angin malam sedikit aja langsung kerokan?
Iyyaka Nasta’in: Jurus Sakti Anti-Runtuh Mental
Nah, di sinilah pentingnya kita meresapi kembali bacaan yang tiap hari kita baca minimal 17 kali dalam shalat:
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."
Kata Nasta’in (kami memohon pertolongan) itu sebenarnya suplemen jiwa paling ampuh buat Emak-emak dan Bapak-bapak. Orang yang sudah paham dan mengunci hatinya dengan kata Nasta’in punya cara pandang yang beda kelas:
Dia Paham Soal "Figuran" vs "Sutradara":
Tetangga, suami, kawan ronda, atau tukang servis itu cuma perantara (figuran). Pertolongan sejati (Nasta’in) itu hak milik penuh Allah SWT (Sutradara Utama).
Kalau Figuran-nya Gagal Tugas:
Misal, si Papa batal benerin kran bocor gara-gara keburu tidur. Si Mama yang paham makna Nasta’in gak bakal mengamuk sampai piring terbang. Si Mama bakal batin:
"Oh, pertolongan Allah buat kran bocor ini ternyata bukan lewat Papa. Ya udah, Bismillah, Allah pasti kasih rezeki lewat jalan lain buat panggil tukang galon sebelah!"
Ubah Mindset, Rumah Tangga & Pertemanan Jadi Adem!
Coba bayangkan kalau Emak-emak dan Bapak-bapak sekompleks kompak memegang prinsip Nasta'in:
Pas Tupperware gak balik: "Alhamdulillah, berarti Tupperware itu lebih bermanfaat di rumah Jeng Mimin. Lagian Allah pasti ganti dengan rezeki set piring cantik lainnya." (Darah tinggi drop, wajah makin glowing anti-keriput!)
Pas janji kopi ronda batal: "Nggak apa-apa Pak Budi gak bawa kopi, mungkin beliau lagi ada halangan. Allah pasti mudahkan kita ronda malam ini tetap hangat walau cuma minum air putih." (Suasana pos ronda adem tenteram tanpa prasangka!)
Pesan Penutup
Ingat ya Mak, Pak... Manusia itu tempatnya lupa, janji palsu, dan mager. Tapi Allah Swt? Minta tolong sama Allah itu gak pakai antre, gak pernah ghosting, gak pernah pura-pura amnesia, dan gak pernah kehabisan stok pertolongan.
Mulai hari ini, kalau ada tetangga atau pasangan ngasih janji manis, aminkan saja dan hargai niat baiknya. Tapi untuk urusan menggantungkan harapan dan pertolongan, kunci rapat-rapat di kalimat Nasta’in.
Biar emak-emak tetap awet muda tanpa drama Tupperware, dan bapak-bapak bisa ngopi dengan tenang tanpa beban emosi!
Your email address will not be published. Required fields are marked *