
Mencari nafkah di era sekarang rasanya mirip ikut kompetisi Benteng Takeshi versi korporat. Target bulanan makin melangit, tagihan sekolah anak makin ugal-ugalan, dan cicilan rumah melotot tiap tanggal satu. Dalam kondisi sengit begini, punya ambisi buat naik jabatan dan mengincar bonus akhir tahun itu hukumnya sah-sah saja. Ngono yo ngono—semua orang butuh bertahan hidup dan beli beras. Tapi kalau cara naiknya harus pakai trik menjatuhkan rekan kerja, memotong jalur, atau drama sikut kanan-sikut kiri... nah, di situlah sinyal "Tapi Ojo Ngono" wajib dinyalakan!
Coba kita intip dinamika kaum emak di kubikel kantor. Punya ambisi jadi Employee of the Month demi menutup anggaran dana darurat dapur itu mulia. Ngono yo ngono. Tapi kalau lagi presentasi di depan direksi, tiba-tiba Mbak Emak melirik ke bos sambil berbisik, "Duh Pak, slide 5 sampai 10 ini sebenarnya ide murni dari saya semalam. Kasihan Mbak Maya, pas rapat kemarin dia malah ketiduran gara-gara anaknya rewel."
Duh, Bu... itu namanya bukan kerja cerdas, tapi mengorbankan kawan demi panggung sendiri! Inget Bu, mbanting piring di dapur sendiri saja berisik, apalagi membanting karier kawan sendiri di depan bos. Mental kawan langsung runtuh, dan suasana ruangan kantor yang tadinya adem bisa mendadak berubah panas mirip sauna tanpa AC.
Geser sedikit ke kubikel kaum bapak. Ambisi bapak-bapak mengejar posisi supervisor demi upgrade mobil keluarga atau sekadar beli joran pancing baru itu sangat manusiawi. Ngono yo ngono. Tapi pas lagi ajang coffee break atau sesi ngerokok bareng manajer, Pak Bapak mendadak jadi agen intelijen amatir: "Pak Bos, si Joko belakangan ini kinerjanya agak menurun ya? Saya dengar-dengar sih dia sering buka aplikasi pencari kerja pas jam kantor..."
Pak, tolong... itu namanya OJO NGONO! Menikam teman dari belakang pakai jurus bisikan maut di pojokan pantry itu sungguh tidak jantan. Ingat Pak, jabatan di kantor itu cuma sementara, tapi cap sebagai "rekan kerja culas" bakal menempel abadi sampai ke grup alumni pensiunan!
Di dunia kerja yang makin keras ini, kita semua berada di perahu yang sama: sama-sama capek, sama-sama tertekan target, dan sama-sama kepengin hidup layak. Karier yang melesat memang membanggakan, tapi melesat di atas penderitaan orang lain cuma akan menyisa batin yang tak pernah tenang. Jadi, kejarlah mimpimu setinggi langit, tapi pastikan kakimu tetap memijak bumi tanpa perlu menginjak jempol kaki teman di sebelahmu.
Your email address will not be published. Required fields are marked *