
Pernah nggak, kamu lagi di fase duka paling mendalam—misalnya dompet tinggal KTP doang pas tanggal tua, atau kucing peliharaan baru saja minggat—terus kamu curhat ke teman?
Belum juga air mata dramatis kita tumpah, si teman malah motong dengan kalimat legendaris: "Duh, elo baru kucing minggat? Tau nggak, kemarin anjing tetangga gue beranak lima, trus salah satunya..."
Jebret! Seketika itu juga, panggung derita yang tadinya milikmu langsung direbut, direnovasi, dan diisi sirkus oleh dia. Selamat, kamu baru saja jadi penonton setia di teater ego manusia.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Sebagai umat manusia yang kebetulan hidup di bumi, kita semua punya penyakit bawaan pabrik yang namanya keinginan kuat untuk jadi pusat semesta.
Otak kita ini kayak punya tombol shortcut otomatis. Setiap kali ada orang yang ngomongin pengalamannya, sensor di kepala kita langsung berteriak: "Woy! Sambungin ke cerita gue! Cerita gue lebih seru!"
Contoh paling nyata gampang banget ditemukan di tongkrongan kopi susu hits:
Teman A: "Eh, kemarin gue kena tilang polisi gara-gara salah belok di Sudirman. Sumpah sial banget, melayang deh uang jajan seminggu."
Kamu (yang nggak mau kalah saing): "Ah, elo baru ditilang di Sudirman. Gue malah pernah ditilang pas lagi nggak pakai helm, pakai celana piyama, nganterin kucing beranak, terus polisinya mantan gebetan gue waktu SMP!"
Padahal, yang lagi dibahas itu penderitaan si Teman A. Tapi entah kenapa, ego kita langsung gatal kalau nggak ikut nimbrung membawa kisah yang (merasa) lebih spektakuler. Kita ini, tanpa sadar, adalah ratu dan raja one-upping (saling mendahului dalam penderitaan atau keseruan).
Kegiatan "ingin menjelaskan banyak hal tentang diri sendiri" ini nggak cuma berlaku pas lagi curhat sedih, lho. Pas lagi pamer halus juga sama aja destruktifnya buat seni mendengarkan.
Coba ingat-ingat momen arisan atau kumpul keluarga besar:
Ada tante yang dengan bangganya cerita kalau anaknya baru aja menang lomba balap karung tingkat kelurahan. Sebagai pendengar yang budiman, harusnya kita bilang, "Wah, hebat banget, Tante!"
Tapi apa daya, mulut ini gatal banget buat membelokkan arah pembicaraan: "Oh, balap karung ya? Anak saya kemarin malah ikut olimpiade robotik internasional, sampai disalami sama robotnya langsung. Tapi ya gitu, kecapekan jadi juara satu."
Asli, itu bukan lagi mendengarkan, itu namanya ajang adu nasib dan pamer terselubung berkedok ngobrol santai.
Sebenarnya, psikolog atau ahli perilaku mungkin punya penjelasan ilmiah ribet tentang kenapa kita doyan banget ngomongin diri sendiri. Tapi kalau dibikin versi santainya sih simpel: karena ngomongin diri sendiri itu gratis, seru, dan bikin kita merasa penting.
Otak kita memproduksi hormon dopamin (zat bahagia) setiap kali kita didengarkan orang lain. Makanya, pas kita lagi cerita tentang kehebatan kita, masa lalu kita yang penuh liku, atau opini kita tentang cara bikin mi instan yang benar, rasanya tuh kayak lagi jadi bintang tamu podcast terkenal.
Masalahnya, kalau semua orang di ruangan itu mau jadi bintang tamu, siapa dong yang jadi penontonnya? Jawabannya: nggak ada. Semuanya cuma sibuk manggut-manggut palsu sambil gelisah menunggu giliran buat ngomong, "Eh, tapi kalau ngomongin soal..." sambil narik topik balik ke diri mereka lagi.
Tentu saja, bukan berarti kita harus jadi patung pancoran yang cuma diam membisu waktu diajak ngobrol. Ngobrol itu dua arah. Tapi, kadang ada baiknya kita sesekali mengerem rem tangan ego kita.
Coba deh, sekali-kali jadi pendengar sejati tanpa harus buru-buru menimpali dengan kalimat, "Ah, itu mah kecil, dulu gue..."
Biarkan teman kita puas menceritakan kebodohannya, kesedihannya, atau bahkan kehaluannya sampai selesai. Siapa tahu, dengan kita mendengarkan, mereka jadi sadar kalau dunia ini ternyata nggak berputar di poros kemaluan atau kehebatan mereka doang.
Dan kalaupun nanti giliran kita yang ngomong terus orang lain motong pembicaraan kita... ya, paling tidak kita jadi tahu rasanya: nyebelin banget, kan?
Your email address will not be published. Required fields are marked *