
Pernah tidak, kamu bela-belain beli tumbler aesthetic seharga setengah juta demi mewujudkan impian jadi executive muda yang modis dan rajin minum air putih? Dengan senyum terkembang, kamu pamerkan botol itu di atas meja kantor. Baru juga mau tegukan pertama, teman kubikel sebelah nyeletuk, "Lho, kok mirip termos tempat es lilin abang-abang SD zaman dulu ya?" Boom! Dalam satu detik, aura eksekutif yang kamu bangun dari Subuh hancur berantakan. Tumbler mahal itu mendadak kelihatan kayak wadah minyak tanah, dan air putih di dalamnya berubah rasa jadi penyesalan.
Inilah bencana maha dahsyat kalau kamu membiarkan standar bahagiamu dipegang oleh orang lain. Kita ini sering banget menyerahkan saklar emosi ke jempol netizen atau mulut kawan-kawan yang selera estetiknya saja masih gaib. Hari ini mereka puji gaya potong rambut barumu bak pangeran drama Korea, besoknya saat mereka lagi kepanasan dan mati listrik, potongan rambut yang sama dibilang mirip jamet pensiun yang hilang arah. Lah, yang gonta-ganti suasana hati siapa, yang kena serangan mental malah kamu!
Sadar deh, menilai kebahagiaan sendiri pakai kacamata orang lain itu ibarat nitip es krim ke tempat sampah hangat. Orang lain itu punya mood yang berubah-ubah secepat arus lalu lintas jam pulang kerja. Saat perut mereka kenyang, kamu bernyanyi sumbang pun bakal dipuji, "Wah, suaramu unik ya, eksentrik!" Tapi coba kalau mereka lagi tanggal tua dan maag-nya kumat, kamu cuma geser posisi duduk dua sentimeter saja sudah dituduh merusak ketenangan alam semesta.
Lucunya lagi, kita rela menderita demi validasi yang umurnya cuma lima detik. Mau beli sepatu empuk tapi dibilang "kurang kekinian", akhirnya beli sepatu keras yang bikin jempol kaki terancam diamputasi demi dibilang fashionable. Mau pesan kopi susu gula aren kesukaan, tapi gengsi karena teman-teman pada pesan espresso double shot tanpa gula biar kelihatan dark and mysterious. Ujung-ujungnya kamu yang asam lambungnya naik kumat, mereka santai-santai saja keliling ruangan.
Jadi, sudah saatnya kamu merebut kembali remote kontrol hidupmu dari tangan orang-orang yang sukanya gonta-ganti saluran sembarangan. Kalau kamu suka tumblermu, mau bentuknya mirip termos es lilin atau galon mini, ya pakai saja! Bahagia itu simpel: pakai baju yang bikin kamu nyaman, minum kopi yang bikin senyum, dan cuek saja sama penilaian orang yang besok pagi juga sudah lupa kamu pakai baju warna apa. Hidupmu terlalu berharga kalau cuma dihabiskan buat menyenangkan juri-juri kehidupan yang kelakuannya sendiri masih sering membagongkan.
Your email address will not be published. Required fields are marked *