
Pernah nggak sih kamu lagi capek-capeknya sehabis berjuang menembus kemacetan, dompet makin tipis, token listrik udah jerit-jerit tit-tit-tit, eh masih harus ketemu orang yang sikapnya bikin emosi mendidih? Yang bikin makin gedeg, orang ini secara aturan memang nggak melanggar hukum, alias dia merasa punya hak penuh atas tindakannya. Tapi ya ampun... tingkat empatinya nol besar!
Dalam filosofi hidup bermasyarakat, fenomena ini berakar dari hilangnya rasa tepa slira alias tenggang rasa. Ada garis batas tak kasatmata di mana hak pribadi seharusnya direm saat mulai mengikis kenyamanan orang lain. Sebab, sekadar "benar secara aturan" tidak otomatis membuat seseorang jadi manusia yang bijak.
Mari kita lihat aksinya di medan perang kaum emak.
Ada tipe ibu-ibu di minimarket saat jam sibuk pulang kerja—di mana cuma satu kasir yang buka dan antrean sudah mengular panjang sampai ke rak makanan ringan. Si Ibu memegang haknya sebagai konsumen untuk menukarkan 35 kupon diskon promo seribuan satu per satu, sambil nanya harga tiap barang secara detail. Saat antrean di belakangnya mulai mengelus dada dan mengembuskan napas berat, si Ibu cuma melirik santai sambil bilang, "Lho, kan promo dari aplikasinya resmi, saya berhak dong pake semuanya!"
Iya Bu, betul... Ibu berhak 100%. Tapi kasihanilah batin orang-orang di belakang Ibu yang cuma mau beli minyak angin demi menyambung hidup! Berhak menukarkan kupon bukan berarti harus memborong waktu kasir saat orang lain sedang buru-buru.
Sementara di arena kaum bapak, contohnya tidak kalah epik.
Bayangkan bapak-bapak yang parkir mobil persis di depan pagar rumahnya sendiri. Secara lahan, itu memang area depan rumahnya. Tapi jalanan gang tersebut sempitnya minta ampun. Akibat mobilnya parkir di situ, tetangga sebelah harus banting setir ekstra keras dan seloncat-loncat naik trotoar cuma buat lewat pakai motor. Pas ditegur, si Bapak menjawab santai, "Lho, ini kan jalanan umum di depan rumah saya sendiri, saya berhak dong parkir di sini!"
Pak, tolong... punya rumah dan punya mobil itu memang hak Bapak, tapi menutup akses jalan warga demi kenyamanan pribadi itu namanya egois berkedok "hak"!
Pada akhirnya, hidup yang makin berat ini bakal jauh lebih adem kalau kita tidak cuma memikirkan "Apa hak saya?", tetapi juga "Bagaimana dampaknya ke orang lain?". Punya hak itu soal aturan, tapi menggunakan hak dengan memperhitungkan perasaan sesama adalah soal empati dan peradaban.
Your email address will not be published. Required fields are marked *