
Hidup zaman sekarang rasanya makin ke sini makin kayak naik wahana roller coaster tanpa sabuk pengaman. Harga bahan pokok makin melambung, cicilan token listrik bunyi tit-tit-tit justru pas kita baru mau merem tidur siang, belum lagi grup WA RT yang isinya gabungan tagihan iuran kebersihan dan stiker bapak-bapak bergerak. Dalam kondisi hidup yang makin berat dan bikin emosi setipis tisu dibagi dua ini, kita butuh satu tameng pemungkas agar kearifan lokal tetap menjaga kewarasan: "Ngono yo ngono, tapi ojo ngono."
Kalau diterjemahkan secara harfiah ke bahasa Indonesia, artinya memang agak abstrak: "Begitu ya begitu, tapi jangan begitu." Tapi secara filosofis, ini adalah kearifan lokal tingkat tinggi. Makna sederhananya: Boleh-boleh saja melakukan sesuatu, tapi ya tahu diri dan pakai rem dong! Jangan kebablasan!
Mari kita bedah praktiknya di kehidupan nyata, dimulai dari dunia kaum emak yang penuh warna dan intrik.
Pernah lihat emak-emak nawar kangkung di pasar subuh? Nawar itu hak semua pembeli, sah-sah saja. Ngono yo ngono—paham banget ibu-ibu mau hemat demi menyambung hidup keluarga. Tapi kalau kangkung dua ikat harga Rp5.000 ditawar jadi Rp2.000, terus minta bonus tempe semangit, plus minta kangkungnya disiangin sama penjualnya di tempat... nah, itu namanya OJO NGONO! Kasihan paman sayurnya, Bu! Dia jualan mau cari nafkah buat bayar sekolah anak, bukan lagi buka posko Bakti Sosial!
Belum lagi drama di grup WA arisan RT. Ada emak-emak yang habis dibelikan perhiasan baru sama suaminya. Niatnya murni mau berbagi kebahagiaan (ngono yo ngono). Tapi pas ada anggota grup yang memuji, balesnya malah, "Duh, cuma emas biasa kok ini Jeng, murah... nggak seberapa dibanding tabungan suami kamu yang (katanya) lagi seret itu kan?"
Nah, itu namanya OJO NGONO! Itu bukan berbagi kebahagiaan, tapi lagi menebar paku bumi di hati orang lain. Mental kawan sendiri langsung drop, dan pertemanan yang dibina dari zaman ghibah bareng bisa bubar seketika hanya karena satu kalimat tanpa rem.
Sekarang kita geser ke dunia kaum bapak yang kelihatan tenang di luar, tapi penuh manuver di dalam.
Hobi itu penting buat stress relief bapak-bapak setelah seharian kerja keras. Mau beli raket bulutangkis baru, joran pancing keren, atau kelengkapan sepeda, silakan. Ngono yo ngono. Tapi kalau raket harga 3 juta ngaku ke istri harganya 150 ribu, terus disembunyiin di bagasi mobil selama seminggu biar gak ketahuan, pas ditanya istri malah jawab, "Ini dapet bonusan dari kantor kok, Ma..."
Pak, tolong... itu namanya OJO NGONO! Ingat Pak, kebohongan berkedok hobi itu tipis batasnya sama bencana domestik. Sekali istri Iseng main ke toko olahraga dan tahu harga aslinya, bukan cuma mental Bapak yang kena smash, tapi dompet dan hak jatah kopi pagi bisa melayang sampai bulan depan!
Atau contoh lain yang sering terjadi pas acara Kerja Bakti RT di hari Minggu pagi. Bapak-bapak datang pakai kaos partai rombeng dan celana pendek, siap gotong royong. Ngono yo ngono. Tapi kalau dari jam 7 pagi sampai jam 11 siang tugasnya cuma duduk di pos ronda, ngopi, ngerokok, sambil megang cangkul CUMA pas ada yang mau ambil foto dokumentasi buat laporan grup WA... halo Pak, itu namanya OJO NGONO BANGET! Yang lain sudah mandi keringat gotong sampah dari selokan, Bapak cuma mandi asap rokok sambil tebar pesona.
Di tengah tekanan hidup yang makin gila-gilaan ini, rumus "Ngono yo ngono, tapi ojo ngono" adalah rem darurat terbaik untuk menjaga kesehatan mental bersama. Manusia itu gampang banget tersulut emosi, gampang lepas kendali kalau merasa diri paling benar, paling berhak, atau paling sengsara.
Ingat, kita semua sama-sama capek menghadapi beban hidup. Jadi, kalau mau bercanda, bercandalah tapi jangan sampai bikin orang minder. Kalau mau nagih utang ke teman, nagihlah dengan sopan tapi jangan maki-maki di kolom komentar Instagram-nya. Kalau mau jujur, jujurlah tapi jangan berubah jadi kasar.
Menjaga perasaan orang lain itu gratis, tapi efeknya luar biasa buat keawetan hubungan dan ketenangan jiwa. Jadi mulai hari ini, sebelum bertindak atau berucap hal yang berpotensi bikin huru-hara, tarik napas dalam-dalam, senyum tipis, dan bisikkan pada diri sendiri: "Ngono yo ngono... tapi ya ojo ngono lah!"
Your email address will not be published. Required fields are marked *