
Mantra "nanti saja deh" adalah sihir paling ampuh yang diciptakan otak manusia saat ogah keluar dari zona nyaman. Kata-kata ajaib ini selalu berhasil menyulap niat mulia menjadi penyesalan di kemudian hari. Padahal, potensi hebat dalam diri kita tidak pernah mati karena ledakan besar, melainkan perlahan layu karena terlalu sering diolesi obat pembius bernama nanti dulu.
Penyakit ini melintas tanpa pandang bulu, melahap siapa saja di kehidupan sehari-hari:
Kaum Emak-Emak: Niat awal sangat mulia, mau melipat gunung pakaian yang sudah bertumpuk di kamar. Tapi pas mau mulai, mendadak kepikiran, "Nanti deh, habis nonton FYP TikTok lima menit." Tanpa sadar, dua jam melayang cuma buat menonton video resep martabak teflon dan drama rumah tangga orang lain. Keranjang baju yang tadinya beranak satu, kini sudah bikin dinasti baru. Potensi jadi ratu home-management yang rapi pun gugur seketika.
Kaum Bapak-Bapak: Mengaku ingin hidup sehat dan mengecilkan perut yang kian maju pantang mundur. Janjinya, "Nanti deh, pas libur akhir pekan mulai lari pagi." Tapi begitu hari Minggu tiba, gravitasi teras rumah beserta secangkir kopi hitam dan biskuit blek isi rengginang jauh lebih menggoda. Kran air bocor yang dijanjikan dibetulkan dari bulan lalu pun masih setia meneteskan air mata.
Anak Remaja & Gen Z: Jagonya bikin matematika waktu yang ajaib. Niat ngerjain tugas sekolah jam 07.50, tapi merasa tanggung. "Nanti deh, pas jam 08.00 pas biar angkanya cantik." Eh, pas melihat jam ternyata sudah 08.01. "Waduh, kebablasan. Nanti deh jam 09.00 sekalian." Siklus mistis ini berulang sampai jam dua malam, sampai akhirnya panik mengetik tugas sambil menangis batin. Potensi jadi siswa berprestasi langsung digantikan status juara bertahan Sistem Kebut Semalam.
"Nanti saja deh" terasa sangat nyaman karena ia tidak langsung menyakiti kita. Ia cuma menidurkan ambisi secara halus. Kita merasa tidak bersalah karena merasa masih punya niat, padahal niat tanpa eksekusi itu cuma khayalan yang tertunda. Semakin sering kita menunda, semakin tebal rasa malas yang membungkus potensi kita sampai akhirnya mati rasa.
Cara mematahkannya sederhana tapi butuh tega: pakai aturan 5 detik. Begitu terlintas niat baik, hitung mundur 5, 4, 3, 2, 1, dan langsung bergerak sebelum otak sempat mencari alasan untuk "nanti".
Your email address will not be published. Required fields are marked *