
Ketika hidup lagi ruwet-ruwetnya, ego sering mengambil alih kemudi dan bikin kita merasa jadi main character di sinetron azab. Kita mendadak merasa seluruh alam semesta—termasuk tetangga, kawan lama, sampai tukang galon—wajib hukumnya pasang badan saat kita lagi kepepet.
Tragedi Panci Presto Kaum Emak
Bu Yayuk lagi senut-senut karena mendadak ditunjuk jadi tuan rumah arisan RT nanti malam, padahal dapurnya belum siap sama sekali. Dengan nafas terengah-engah, dia nge-WA Bu Erna buat minjem panci presto jumbo plus minta tolong dibantu metikin sayur.
Bu Erna balas singkat: "Aduh maaf Bu Yayuk, saya lagi gak bisa bantu dulu."
Ego Bu Yayuk langsung meledak: "Tega banget! Padahal kemarin pas dia butuh daun salam, tak kasih sepetak-petaknya!"
Bu Yayuk lupa kalau Bu Erna juga manusia biasa. Dia tidak tahu kalau detik itu Bu Erna lagi selonjoran di kasur sambil meratapi nasib gara-gara suaminya salah beli bumbu dapur—disuruh beli ketumbar malah bawa merica setengah kilo—sementara dua balitanya lagi bertarung perebutan wilayah di atas kasur. Bu Erna bukannya jahat, tapi dia sendiri lagi di ambang batas kewarasan.
Drama Rantai Motor Kaum Bapak
Di sudut komplek yang lain, Pak Toto lagi emosi jiwa gara-gara rantai motornya putus pas mau berangkat kerja. Dia langsung nelpon Pak Bambang jam 6 pagi buat minta diantarkan atau dipinjamkan kunci pas.
Pak Bambang menjawab dengan suara serak: "Waduh Bro, sorry banget, belum bisa bantu."
Pak Toto langsung ngedumel: "Cakep! Giliran gue susah aja pada ngilang. Padahal dulu tiap ronda sering tak kasih kopi saset!"
Padahal realitanya, Pak Bambang lagi tengkurap di kasur dengan punggung penuh garis-garis merah hasil kerokan maut sang istri gara-gara angin duduk mendadak. Jangankan buat mengantar Pak Toto atau mengambilkan kunci pas, buat geser posisi duduk saja Pak Bambang harus meringis sambil baca doa keselamatan.
Membedakan "Ditinggalkan" dan "Sama-sama Pusing"
Saat kita sedang sulit, otak kita sering menjebak kita untuk berpikir bahwa kesulitan kitalah yang paling berat di dunia. Padahal:
Bukan Cuma Kita yang Lagi Babak Belur: Orang lain punya badai kehidupannya sendiri yang sengaja tidak mereka pamerkan di status WhatsApp.
Bantuan Itu Bonus, Bukan Hak Mutlak: Mengharapkan bantuan orang lain itu wajar, tapi menuntut orang lain mengorbankan kondisinya demi kita adalah bentuk egoisme terselubung.
Empati Itu Dua Arah: Puncak kedewasaan adalah saat kita ditolak dan tetap bisa membalas, "Gak apa-apa Bro, santai. Urusanmu sendiri gimana, aman?"
Sebelum kita sibuk menebar jurus guilt-trip atau bikin status galau berbalut sindiran halus, coba tarik napas dulu. Buka mata lebar-lebar: bisa jadi orang yang kita harapkan jadi pahlawan hari ini, justru lagi megap-megap mencari pahlawannya sendiri.
Your email address will not be published. Required fields are marked *