
Merah putih sudah berkibar di mana-mana, lagu-lagu perjuangan berkumandang dari speaker mushola, dan aroma kuah soto gratisan mulai tercium di lapangan RT. Ya, Peringatan Kemerdekaan RI ke-81 tahun ini disambut dengan sukacita luar biasa. Tapi di balik kemeriahan lomba dan parade karnaval, ada satu tradisi tidak resmi yang selalu berhasil lolos dari pengawasan panitia: seni main serobot atas nama kebebasan.
Banyak yang mengira merdeka berarti bebas mengekspresikan diri tanpa batas. Masalahnya, batas antara "menikmati hak" dan "memperturutkan ego" itu tipisnya melebihi kulit kerupuk lomba 17-an. Begitu merasa punya hak yang sama, naluri main serobot langsung keluar dengan berbagai alibi yang bikin mengelus dada.
Puncak dari selebrasi 17-an biasanya disempurnakan dengan acara Jalan Sehat warga. Di sinilah panggung utama kejayaan kaum emak dimulai. Ketika garis finish sudah kelihatan dan panitia mulai membagikan sarapan nasi uduk gratis, terjadi pergeseran leton yang dahsyat.
Seorang emak yang tadi di sepanjang jalan mengeluh encok, mendadak punya kecepatan lari setara atlet sprint demi menyerobot barisan paling depan.
"Lho, Mbak, kan kita sama-sama warga sini, merdeka dong mau ambil nasi sebelah mana dulu! Lagian saya bawa balita nih!" (Padahal balitanya sudah kelas 5 SD dan lagi asyik main game di pojokan).
Gaya menyerobotnya pun halus tapi mematikan: pura-pura menyapa tetangga di depan, nanya resep sayur lodeh, tahu-tahu badannya sudah bergeser tiga meter ke depan antrean. Merasa punya hak atas nasi uduk adalah satu hal, tapi menggeser sepuluh orang yang sudah berdiri kepanasan sejak jam 6 pagi adalah bentuk keegoisan tingkat tinggi.
Tidak mau kalah dengan euforia ke-81 tahun Indonesia merdeka, kaum bapak punya panggung serobotnya sendiri di area jalanan dan lapangan komplek. Saat rombongan karnaval anak-anak PAUD berpakaian adat sedang parade dengan anggun, tiba-tiba ada satu mobil bapak-bapak yang nekat menerobos barisan sambil membunyikan klakson tanpa henti.
Saat ditegur panitia, dengan santainya si bapak membuka kaca jendela:
"Yah, Mas! Ini kan jalan umum, dibangun pakai uang pajak rakyat! Saya kan rakyat, punya hak merdeka buat lewat kapan saja!"
Belum lagi urusan parkir di area Panggung Gembira malam puncak 17-an. Bapak-bapak yang datang paling belakangan sering kali dengan percaya diri memarkirkan mobilnya persis di depan pintu gerbang keluar warga, menutup akses tiga rumah sekaligus. Saat pemilik rumah protes, jawabannya selalu klasik: "Bentar doang Pak, cuma mau nonton pembagian hadiah utama doorprize. Kan malam kemerdekaan, masa tidak boleh saling mengerti?" Mengerti versi si bapak: dia bebas parkir di mana saja, orang lain bebas mengurut dada.
Panitia remaja yang kelelahan menyiapkan panggung 17-an juga sering jadi korban serobot antar sesama teman. Ada tipe remaja yang sama sekali tidak ikut kerja bakti pasang tenda atau gulung kabel, tapi begitu acara dimulai, dia langsung menyerobot deretan kursi plastik paling depan yang disiapkan khusus untuk tamu undangan dan sesepuh RT.
Saat ditegur, jurus andalannya adalah: "Lah, kan duduk di mana saja bebas, Bang? Duduk kan hak asasi manusia, tidak ada undang-undangnya yang melarang!" Luar biasa. Atas nama kebebasan dan hak asasi, sopan santun kepada warga yang lebih tua langsung di-logout dari pikirannya.
Peringatan kemerdekaan ke-81 ini seharusnya jadi pengingat manis buat kita semua. Pahlawan dulu berjuang merebut kemerdekaan biar kita bisa hidup berdampingan dengan adil dan tertib, bukan biar kita bisa saling serobot antrean nasi tumpeng atau saling serobot lahan parkir tetangga.
Kemerdekaan yang sejati adalah ketika kita tahu kapan harus maju untuk mengambil hak kita, dan kapan harus berhenti demi memberikan ruang bagi hak orang lain. Jadi, di momen 17-an tahun ini, yuk kita rayakan kebebasan dengan bijak. Boleh makan kerupuk sepuasnya, boleh ikut lomba balap karung sekuatnya, tapi tolong... antreannya jangan diserobot juga!
Your email address will not be published. Required fields are marked *