
Bayangkan hari Minggu yang cerah. Kamu baru saja membeli baju baru warna kuning kunyit—pilihan warna yang di matamu sangat memancarkan aura sunshine, kesuksesan, dan vibes calon miliarder muda. Di depan cermin kamar, kamu berpose bagai model papan atas, yakin betul seluruh dunia bakal terpesona. Dengan percaya diri setinggi langit, kamu pakai baju itu untuk nongkrong di kafe hits. Baru saja duduk lima detik, temanmu menceletuk dengan polosnya, "Wah, tumben hari ini makin mirip bungkus biskuit Khong Guan? Atau mau jadi maskot bumbu instan tempe goreng?" Dalam sekejap, aura miliarder yang kamu rakit dari rumah langsung runtuh berkeping-keping, berubah jadi rasa ingin menghilang di balik lipatan taplak meja sambil berpura-pura jadi serbet.
Itulah keajaiban sekaligus musibah ketika kita menyerahkan remote kontrol kebahagiaan kita ke tangan orang lain. Kita sering lupa kalau opini manusia itu sifatnya jauh lebih labil daripada kuota internet gratisan di tengah badai topan. Jam dua siang saat perut mereka kenyang, mereka bilang, "Ih, kamu keren banget hari ini, inspiratif parah!" Eh, jam empat sore saat mereka kehausan, kepanasan, dan belum dapat seblak pedas level lima, respons mereka berubah total: "Duh, bisa diam sebentar gak? Cara bernapasmu bising banget!" Lah? Yang lagi emosi siapa, yang lapar siapa, tapi yang kena mental malah kamu!
Lucunya, kita sering terjebak di siklus membagongkan ini setiap hari. Mau posting satu foto di Instagram saja harus melewati 'sidang pleno DPR' di grup WhatsApp sahabat. "Guys, bagusan yang slide 1, 2, atau yang agak blurry sok estetis?" Tiga orang bilang slide 1, dua orang bilang "Dua-duanya agak aneh sih, muka kamu kayak nahan bersin." Ujung-ujungnya foto batal diunggah, dan kamu berakhir overthinking sampai jam tiga pagi sambil menatap langit-langit kamar, merenungi takdir bentuk alis yang kurang simetris dan ukuran pori-pori pipi sebelah kiri.
Padahal ya, menaruh standar bahagia di mata orang lain itu ibarat menitipkan gorengan hangat ke kucing yang belum makan tiga hari. Kucingnya memang kelihatan imut dan tidak berdosa, tapi begitu kamu berpaling sebentar saja, gorenganmu hilang, dan kamu cuma bisa gigit jari melihat dia santai menjilati jempolnya. Orang lain itu punya selera, mood, dan tingkat stres yang beracak-acak. Hari ini mereka memuji gaya bicaramu bak orator ulung, besok saat mereka sedang bertengkar dengan pacarnya atau saldo ATM-nya menipis, keberadaanmu saja bisa dianggap mengganggu ketimbangan tata surya.
Jadi mulai sekarang, tarik kembali saklar bahagiamu! Kalau kamu merasa baju kuning kunyitmu keren, ya pakai saja dengan bangga. Biarkan orang mau bilang kamu mirip bungkus biskuit atau bumbu dapur instan, yang penting kamu merasa berkilau dan nyaman. Bahagia itu sebenarnya sederhana: seduh kopi hangat, nikmati pilihan hidupmu sendiri, dan ingat bahwa hidupmu yang berharga ini terlalu mahal kalau cuma diatur oleh selera orang lain yang gonta-ganti pendapat tiap lima menit sekali.
Your email address will not be published. Required fields are marked *