
Katanya bangsa kita sudah merdeka puluhan tahun. Tapi entah kenapa, pemaknaan kata "merdeka" di tingkat RT sering kali mengalami pergeseran makna yang amat ekstrem. Merdeka yang harusnya lepas dari belenggu penjajahan, malah diartikan: “Bebas melakukan apa saja, kapan saja, di mana saja, tanpa peduli urat leher tetangga mau putus.”
Prinsip "Kan bebas, rumah-rumah gue!" atau "Kan ini hak gue!" kerap jadi tameng sakti buat melanggarkan aksi-aksi yang ajaib. Padahal, ada batas tipis antara mengekspresikan hak pribadi dengan menjadi antagonis di kehidupan orang lain.
Atas Nama "Hak Bebas" Kaum Emak
Mari kita mulai dari pilar ketahanan nasional: kaum emak. Memang, emak-emak adalah pemegang kekuasaan tertinggi di jalanan maupun komplek. Tapi kadang kalimat "Kan matahari milik bersama!" dipakai sebagai legalitas untuk menjemur sprei ukuran king size di atas pagar tetangga. Belum lagi kasus klasik jemuran baju basah yang menetes tepat di atas jok motor tetangga yang baru disalon. Pas ditegur halus, balasannya lebih galak dari pengacara: "Lho, kan kainnya cuma menumpang angin, Mas! Lagian pagar situ melambaikan tangan gitu kayak butuh dihiasi!"
Raja Jalanan dan Audio Spektakuler ala Kaum Bapak
Bergeser ke kaum bapak. Ada fenomena unik di mana seorang bapak merasa belum sah menjadi pria sejati kalau belum memanaskan mesin mobil tua ber-knalpot blong pada jam 5.15 pagi, tepat di depan jendela kamar tetangga yang baru merem setelah ronda. Tidak lupa diiringi ritual menyalakan musik radio atau koplo pakai speaker aktif subwoofer seukuran mesin cuci. Saat ditanya kenapa volumenya setara konser rock outdoor, jawabannya simpel: "Kan merdeka Pak, hiburan pagi biar enggak pikun!" Padahal tetangga sebelah lagi berjuang menidurkan bayi yang baru bangun gara-gara dentuman bass-nya memicu gempa skala lokal.
Pasukan Subuh dan Balap Sirkuit Komplek ala Remaja
Tidak mau kalah, anak remaja juga punya definisi kemerdekaan sendiri. Buat mereka, hak asasi manusia adalah main bareng game online di teras rumah sampai jam 3 subuh. Masalahnya bukan cuma mereka main game, tapi teriakan "PULL BUKAN PUSH!" dan caci maki ke sinyal provider yang menggema ke seantero gang. Kalau ditegur, mereka cuma cengengesan sambil bilang, "Kan kita di teras sendiri, Bang, enggak ganggu jalanan." Iya, jalannya enggak terganggu, tapi kesehatan mental satu RT yang terganggu! Belum lagi kalau mereka memutuskan uji coba knalpot brong di jalan komplek jam 1 malam, merasa jalanan itu sirkuit pribadi ciptaan kakek mereka.
Kemerdekaan yang Sebenarnya
Sering kali kita lupa kalau batas kemerdekaan kita adalah kenyamanan orang lain. Kemerdekaanmu untuk mendengarkan musik berhenti tepat di batas gendang telinga tetanggamu. Kemerdekaanmu punya mobil berhenti di batas garis garasimu, bukan bahu jalan umum yang bikin mobil pemadam kebakaran pun sungkem enggak bisa lewat.
Menghargai hak orang lain itu enggak bikin kadar kemerdekaan kita berkurang kok. Justru, makin kita bisa menahan diri buat enggak egois, makin dewasa cara kita berbangsa dan bertetangga. Jadi, sebelum berteriak "Kan bebas!", coba lirik kanan-kiri dulu. Siapa tahu kebebasanmu sedang membuat orang lain mengelus dada sambil mengurut dahi.
Your email address will not be published. Required fields are marked *