
Kata "capek ah" adalah tameng paling sakti di muka bumi untuk kabur dari segala jenis tanggung jawab dan cita-cita mulia. Alasan dua kata ini punya sihir ajaib yang sanggup meruntuhkan niat menggebu-gebu hanya dalam hitungan detik.
Sihir "capek ah" ini bergentayangan di mana-mana dan memangsa siapa saja tanpa pandang bulu:
Kaum Emak-Emak: Pagi hari semangatnya sekelas motivator internasional: mau bikin sarapan sehat, menyapu sampai kolong kasur bersih dari debu peradaban, dan belajar resep kue sus dari YouTube. Begitu jam dua siang dan melihat piring kotor menumpuk tiga biji, langsung menghela napas panjang, "Duh, capek ah." Hasil akhirnya? Rencana masak makanan sehat diganti mi instan pakai telur rebus, kue sus batal total digantikan gorengan tempe belian depan gang, dan rencana hidup sehat pun menguap bersama uap mi kuah. Versi Chef Bintang Tiga dalam dirinya gagal terwujud gara-gara tergiur dipuk-puk oleh kasur ruang tamu.
Kaum Bapak-Bapak: Malam Minggu berjanji dengan gagah berani di depan keluarga, "Besok pagi Ayah mau ganti oli motor sendiri, bersihin filter AC, sekalian potong rumput depan rumah biar rapi!" Begitu hari Minggu pagi tiba, mata baru terbuka sedikit, badan rasanya remuk padahal cuma habis nonton siaran ulang bola sambil nyemil kacang. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya: "Aduh, seminggu kerja udah capek ah, Minggu itu waktunya istirahat total." Hasilnya? Motor tetap berdecit, rumput depan rumah makin tinggi mirip hutan amazon, dan sang bapak sukses bertransformasi menjadi patung bernapas di atas kursi goyang seharian.
Anak Remaja & Gen Z: Niatnya ingin jadi content creator handal atau siswa berprestasi yang punya portofolio mentereng. Sudah menyusun jadwal belajar dan latihan editing video dengan rapi. Tapi begitu baru membuka laptop 10 menit dan membaca dua paragraf materi, leher mendadak terasa kaku bagai disemen. "Duh, capek ah, beban pikiran banyak banget," desahnya mendramatisir. Laptop langsung ditutup, lalu tubuhnya meluncur mulus ke posisi rebahan miring. Tangan kanan gerak cepat membuka media sosial, dan tanpa sadar tiga jam melayang hanya buat menonton video lucu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masa depan.
Merasa capek itu wajar karena kita manusia, bukan mesin cuci. Tapi kalau setiap kali mau melangkah sedikit lebih maju kita selalu berlindung di balik benteng "capek ah", versi terbaik dari diri kita tidak bakal pernah muncul ke permukaan. Kita cuma bakal jadi versi yang "begitu-begitu saja" sambil iri melihat orang lain yang melaju kencang.
Rahasia orang-orang hebat sebenarnya bukan karena mereka tidak pernah capek, tapi karena mereka tahu bedanya capek butuh istirahat dengan capek cuma alasan malas. Istirahat itu ibarat mengisi ulang baterai, sedangkan menuruti "capek ah" terus-menerus itu sama saja membiarkan baterai mati sampai berkarat. Cobalah paksakan badanmu bergerak lima menit saja dulu; biasanya, begitu roda aktivitas sudah berputar, rasa capek buatan itu bakal menguap dengan sendirinya.
Your email address will not be published. Required fields are marked *