
H-3 menuju peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-81! Tanggal 14 Agustus ini, suasana gang dan kompleks perumahan sudah resmi berubah jadi ajang gladi bersih tingkat tinggi. Bendera merah putih berkibar di mana-mana, bendahara RT sibuk menagih iuran lomba, dan suara speaker pos ronda nonstop memutar lagu Hari Merdeka sampai jangkrik pun hafal liriknya.
Tapi di balik semangat gotong royong Agustusan ini, ada satu penyakit sosial yang sering kambuh pasca pengumuman pemenang lomba: Illusion of Solo Success.
Sederhananya, ini adalah fenomena psikologis saat seseorang berhasil mencapai puncak—entah menang lomba tarik tambang, naik jabatan, atau sukses bikin acara RT—lalu mendadak amnesia dan merasa seluruh kemenangan itu murni hasil kejeniusannya sendiri. Padahal, tanpa 'tumbal' bantuan orang lain di balik layar, dia cuma butiran debu di atas karpet jalanan.
Coba tengok fenomena klasik di lapangan RT saat lomba panjat pinang.
Pak Tejo, dengan tubuhnya yang agak aerodinamis, berhasil memanjat sampai puncak pohon pinang yang sudah diolesi oli bekas setebal 5 cm. Dia berhasil mencabut kaos polos, kipas angin, dan jepitan jemuran.
Begitu turun, Pak Tejo langsung dadah-dadah ke kamera HP warga seolah-olah dia baru saja menangkap piala Ballon d’Or. Di grup WhatsApp RT, caption-nya langsung berbunyi:
"Hanya dengan ketahanan fisik, fokus, dan dedikasi tinggi, puncak tertinggi bisa kita taklukkan!"
Pak Tejo lupa. Dia bisa berdiri tegak di puncak pinang karena di lapisan paling bawah ada Pak RT dan Pak Bambang yang menahan beban tubuhnya 80 kg sambil pasrah ketetesan oli campur minyak goreng bekas dari atas. Leher Pak RT sampai terkilir dan butuh koyo tiga lembar, tapi yang dapat tepuk tangan dan pujian setinggi langit cuma Pak Tejo. Ini dia yang dinamakan Solo Success Illusion versi bapak-bapak!
Tidak mau kalah dengan kaum bapak, fenomena "lupa tim" di kalangan kaum emak juga tak kalah estetik dan dramatis.
Ingat lomba Tumpeng Hias antar-RW? Ketika RT 03 diumumkan sebagai Juara 1, Bu RW dengan anggun maju ke panggung menerima piala. Foto Instagram-nya langsung diunggah dengan caption puitis:
"Sentuhan dingin jemari ini tak pernah mengkhianati rasa. Karya seni kuliner terbaik lahir dari dedikasi tanpa batas."
Iya, Bu RW memang yang menancapkan bendera kertas kecil di puncak nasi tumpengnya. Tapi mari kita bedah ruang dapur H-1 lomba jam 2 pagi:
Bu Tejo: Yang jarinya sampai kapalan mengupas 5 kilogram bawang merah dan bawang putih sambil menangis bombay demi bumbu kuning yang gurih.
Bu Bambang: Yang mengukir wortel dan lobak jadi bentuk burung merak dengan tingkat ketelitian setara pembuat jam tangan Swiss.
Mbak Tutik: Yang kebagian tugas kotor mencuci tumpukan wajan hitam dan piring kotor setinggi Monas di belakang rumah.
Begitu menang, Bu RW menyerap seluruh kejayaan itu sendirian, sementara Bu Tejo dan Bu Bambang cuma bisa ngelus dada sambil mengoleskan balsam ke pinggang mereka yang encok.
Menjelang HUT RI ke-81 ini, ada baiknya kita merenungkan kembali sejarah. Bung Karno dan Bung Hatta tidak pernah berdiri di panggung proklamasi sambil bikin video reels bertuliskan "Proklamasi ini hasil kerja keras gue sendiri tanpa bantuan siapa-siapa, hashtag SelfMadeLeader".
Kemerdekaan bangsa ini diraih karena ada:
Para pejuang yang angkat bambu runcing di barisan depan.
Ibu-ibu yang memasak di dapur umum bergerilya.
Kurir-kurir rahasia yang menyampaikan pesan antar-wilayah.
Doa rakyat yang tak terputus di malam hari.
Sama halnya dengan kehidupan sehari-hari. Sukses presentasi di depan bos? Ada peran rekan kerja yang merapikan slide PowerPoint kamu. Sukses beli mobil baru? Ada doa orang tua dan pasangan yang diam-diam selalu menyebut namamu di setiap sujudnya.
Menjelang perayaan 17 Agustus lusa, yuk kita mulai tradisi baru: apresiasi orang-orang di balik layar.
Kalau timmu menang lomba tarik tambang, jangan cuma puji otot bisep sendiri. Puji juga bapak-bapak di posisi paling belakang yang rela celana korsetnya robek demi menahan tali. Kalau acara panggung pensi Agustusan sukses besar, jangan cuma puji ketua panitianya. Kunjungi anak-anak muda yang bertugas menggulung kabel roll dan menyapu sampah bekas bungkus es di akhir acara.
Sebab pada akhirnya, sukses sendirian itu bukan cuma mitos—tapi juga membosankan. Lebih nikmat rasanya makan kerupuk hasil juara lomba bareng-bareng sambil tertawa lepas, daripada duduk di puncak sendirian sambil megangin koyo di leher. Selamat menyambut Kemerdekaan RI ke-81!
Your email address will not be published. Required fields are marked *