
Keinginan untuk hidup tenang tanpa drama dan tanpa kerepotan itu memang menggiurkan, tapi terlalu alergi pada kesulitan malah bikin mental kita selembek tahu sumedang hangat. Begitu ditempa cobaan hidup yang sepele, kita langsung kaget, bingung, dan merasa jadi orang paling tersakiti di muka bumi.
Penyakit "alergi repot" dan kebiasaan memanjakan diri ini sudah menjangkiti berbagai lapisan masyarakat tanpa pandang bulu:
Kaum Emak-Emak (Korban Serba-Instan & Drama Kurir): Terbiasa dengan segala kemudahan teknologi, dari belanja sayur pakai aplikasi sampai mesin cuci serba otomatis. Tapi begitu sekali waktu air PDAM mati selama satu jam atau kurir paket salah kirim barang ke rumah tetangga, kepanikannya setara dengan krisis moneter. Dapur mendadak jadi arena kuis sengit, suami di rumah kena omel tanpa sebab, dan grup WhatsApp arisan langsung penuh dengan curhatan panjang berformat puisi kesedihan tentang betapa kejamnya takdir hari itu.
Kaum Bapak-Bapak (Alergi Keringat & Tragedi Galon Air): Dulu waktu muda ngaku-ngaku pernah naik gunung sambil bawa tas carrier 80 liter, sekarang begitu masuk fase anti-ribet, mental fisiknya kendor total. Disuruh mengangkat galon air ke atas dispenser saja harus pakai acara pemanasan otot 15 menit dan minta dipuk-puk pakai koyo cabai. Kalau disuruh mengecat ulang dinding teras rumah yang mengelupas sedikit, beliau bakal berdiskusi panjang lebar soal "kesehatan tulang belakang" lalu memilih memanggil tukang profesional cuma buat urusan seluas satu meter persegi.
Anak Remaja & Gen Z (Mental Kerupuk Kena Kuah Soto): Paling terdepan kalau soal mengadopsi gaya hidup minimal-effort. Niatnya mau mandiri dan terlihat keren, tapi begitu diajak naik transportasi umum pas jam pulang kerja dan harus berdiri berdesakan selama 20 menit, mereka langsung merasa kena krisis eksistensial. Lebih kocak lagi kalau di sekolah atau kampus dapat tugas kelompok yang anggotanya agak pasif: bukannya mengambil inisiatif memimpin, mereka malah bikin thread galau di media sosial dengan tagar burnout dan mempertanyakan kesehatan mentalnya.
Kaum Pekerja Muda (Tragedi Revisi Font): Baru masuk dunia kerja dengan mimpi indah gaji besar dan jam kerja santai ala selebgram. Tapi begitu atasan meminta revisi dokumen cuma gara-gara salah pilih font atau margin kurang rapi sedikit, mereka langsung merasa sedang di-bullying oleh satu kantor. Bukannya langsung membetulkan file tersebut dalam lima menit, mereka malah memilih mengurung diri di pantry sambil merenungi apakah pekerjaan ini sesuai dengan passion dan zodiak mereka.
Mencari kenyamanan itu sangat manusiawi, tapi jalanan hidup memang didesain lengkap dengan tanjakan dan kerikil tajam. Kalau setiap kali ada tantangan kecil kita langsung kabur, merajok, atau minta dimaklumi, otot mental kita tidak akan pernah terbentuk. Rasa ketidaknyamanan, rasa capek, dan kerepotan kecil sehari-hari itu sebenarnya adalah "vitamin" gratis agar kita tidak gampang kaget saat menghadapi cobaan hidup yang sesungguhnya.
Your email address will not be published. Required fields are marked *