
Pernah gak kamu lagi rebahan jam 2 pagi, badan cuma ditutup sarung gambar gajah, leher ditempeli koyo cabe, terus jempol tanpa sengaja scrolling ke Story temenmu?
Di sana, dia lagi pose senyum pepsodent di depan mobil baru atau megang plakat penghargaan. Caption-nya? "Alhamdulillah, hasil tidak akan mengkhianati proses. Tetap merendah untuk meroket!
Seketika itu juga, kamu yang lagi nyium aroma minyak kayu putih langsung membatin: "Ya Tuhan, dia meroket, lah gue malah merosot kayak perosotan TK!"
Tapi tunggu dulu, wahai Pengagum Sukses Orang Lain! Sebelum kamu meratapi nasib sampai usus buntu, mari kita bongkar rahasia dapur di balik postingan estetik tersebut.
1. Behind the Scene yang Dihapus dari Galeri
Biar kita makin objektif, mari kita bandingkan apa yang diunggah ke media sosial dengan apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata:
ü Apa yang ada di IG Story: Foto cangkir kopi estetik di rooftop café dengan laptop terbuka. Caption: "Late night hustle with incredible team."
ü Realita di lapangan: Kopinya sebenarnya kopi hitam sachet 2 ribuan. Laptopnya udah bunyi kayak mesin pemotong rumput karena kebanyakan buka tab Chrome. Kliennya minta revisi ke-18 yang tenggat waktunya "sebelum ayam berkokok".
ü Apa yang ada di Reels: Video jalan-jalan slow motion di pinggir pantai. Caption: "Work-life balance is a priority."
ü Realita di lapangan: Itu jalan-jalan liburan singkat hasil nekat karena otaknya udah hampir konslet. Di balik kamera, dia lagi ketakutan nunggu balasan surel dari bos yang nadanya kayak mau ngajak tawuran.
2. Sponsor Resmi Kesuksesan: Koyo, Tolak Angin, dan Insto
Orang sukses di media sosial kelihatan selalu segar bugar kayak habis disiram air zamzam. Padahal, kalau kamu intip tas kerja atau meja belajarnya, starter pack wajib mereka itu bukan cuma ide-ide brilian, tapi juga:
ü Koyo Cabe: Ditempel di leher, pundak, sampai pinggang. Kalau dilepas, kulitnya udah kayak ayam bakar karamel.
ü Mata Panda Level 4: Kantung mata udah melorot sampai ke pipi, siap menggantikan karakter Po di film Kung Fu Panda.
ü Kemampuan Meramal Air Mie Instan: Saking seringnya prihatin pas perintisan, mereka bisa mengukur takaran air mie instan cuma pakai insting batin tanpa perlu liat petunjuk di bungkusnya.
3. Katanya "Hoki", Padahal Berdarah-darah
Netizen itu kalau ngeliat orang berhasil suka gampang banget nyeletuk: "Ah, dia mah hoki!" atau "Wajar lah, mukanya photogenic!"
Padahal, kalau dibongkar, keberuntungan itu cuma 1% dari cerita. 99% sisanya adalah:
ü Ditolak lamaran kerja sampai surat penolakannya bisa dijilid jadi ensiklopedia.
ü Jualan sepi pembeli sampai-sampai yang beli cuma ibunya sendiri karena kasihan.
ü Presentasi ditertawakan, tapi tetep harus senyum sambil menahan air mata yang udah dipojok mata.
Mereka gak posting saat-saat nangis sesenggukan di dalam helm pas jalan pulang hujan-hujanan, kan? Yang diposting ya cuma pas mereka udah bisa beli jas baru!
4. Pelajaran Penting: Jangan Bandingkan "Dapur" Kamu Sama "Ruang Tamu" Orang
Membandingkan perjuanganmu yang masih berdarah-darah sama hasil akhir orang lain yang udah dipoles itu ibarat membandingkan adonan kue yang masih mentah dan benyek sama kue bolu yang udah matang dan diberi topping keju. Ya jelas beda, Bambang!
Jadi, buat kamu yang hari ini:
Pinggangnya serasa mau copot tiap berdiri,
Lagi mumet ngadepin revisi, tugas, atau omzet usaha yang turun naik kayak roller coaster,
Ngerasa jalanmu lambat banget dibanding orang lain...
Nggak apa-apa! Jangan patah semangat. Kamu gak gagal, kamu cuma lagi ada di babak perintisan yang emang kagak ada estetik-estetiknya sama sekali.
Waktumu Akan Tiba!
Tetap semangat berjuang! Kelak, saat kamu sudah sampai di puncak, kamu juga berhak kok bikin postingan estetik sambil pose gaya direktur.
Tapi pas kamu mengetik caption sok bijak itu, jangan lupa bisikkan pada dirimu sendiri: "Akhirnya, koyo cabe dan air mata gue terbayar tuntas!"
Sekarang, cus matikan HP, selonjoran, dan istirahatlah. Besok kita berjuang lagi!
Your email address will not be published. Required fields are marked *