
Pernah gak sih lagi asyik scrolling Instagram atau TikTok jam 1 malam—dengan mata sepet, rambut acak-acakan, dan mie instan rebus yang mulai lembek—tiba-tiba lewat postingan teman kamu?
Fotonya lagi duduk di coffee shop estetik, megang laptop mahal, lalu caption-nya singkat tapi bikin ginjal bergetar: "Grateful for today. Work hard, play harder!"
Seketika refleks batin kamu berteriak: "Enak banget ya hidupnya! Lah gue? Baru mau mulai sukses aja udah encok duluan!"
Eits, tunggu dulu. Sebelum kamu makin overthinking sampai pengen pindah planet, mari kita bedah realitanya.
Filter Instagram vs. Filter Realita
Di media sosial, orang cuma bakal majang puncak gunung es dari kehidupannya. Yang dipajang itu cuma 10% hasil akhirnya yang kinclong, estetik, dan berkelas.
Tapi 90% sisanya? Diarsip rapi-rapi. Mana ada orang mau bikin Reels atau Content dengan gaya begini:
01:00 AM: Foto mata panda kayak reog, dikelilingi bungkus minyak angin dan koyo.
02:30 AM: Video pendek lagi nangis sesenggukan di pojok kamar mandi gara-gara revisi klien ke-14.
04:00 AM: Story bertuliskan: "Laptop bunyi kipas helikopter, saldo OVO tinggal tiga ribu perak, tapi harus tetap senyum."
Nggak ada, kan? Karena hal-hal kayak gitu memang nggak aesthetic buat masuk feeds. Padahal, justru hal-hal itulah yang bikin seseorang bisa sampai di titik suksesnya.
Yang Dilihat Netizen vs. Yang Dirasakan Pelaku
Sering banget kita gampang nyeletuk pas lihat keberhasilan orang lain:
"Ah, dia mah hoki doang!"
"Pasti ada 'orang dalam' tuh!"
"Paling juga modal ortu..."
Padahal kalau kita bongkar "dapur"-nya, perjuangan mereka itu lebih mirip acara uji nyali:
Tidur cuma formalitas: Jam tidur sering kali kalah saing sama deadline dan target harian.
Ditolak berulang kali: Udah kayak pengamen yang baru masuk warung terus langsung diusir pakai gerakan tangan. Bedanya, yang ini ditolak prospek, investor, atau lamaran kerja.
Makan mie instan sampai paham takaran air tanpa diukur: Karena saking seringnya prihatin di masa-masa perintisan.
Keringat dan air mata itu nyata, cuma bedanya mereka nggak pakai backsound lagu viral aja waktu ngalaminnya.
Stop Bandingkan "Behind the Scene" Kamu dengan "Highlight Reel" Orang Lain
Membandingkan proses berdarah-darah kamu dengan hasil akhir yang sudah dipoles milik orang lain itu sama aja kayak kamu bandingin drama Korea pas proses syuting (yang mati-matian diulang 50 kali) sama drakor yang udah siap tayang di Netflix. Ya jelas kalah kinclong!
Jadi, kalau sekarang kamu lagi merasa:
Laptop lemot kamu udah minta dipensiunkan dini,
Badan pegal-pegal serasa habis ditabrak odong-odong,
Usaha belum kelihatan hasilnya tapi tagihan sudah melotot...
Tenang, kamu nggak sendirian dan kamu nggak gagal. Kamu cuma lagi ada di fase "dapur" yang belum layak diposting di feeds.
Lanjutkan Perjuanganmu, Nanti Bikin Caption Bagus!
Sukses itu memang nggak pernah ada yang instan—mie instan aja harus direbus dulu, masa kamu mau langsung matang tanpa dipanasin?
Nanti kalau saatnya tiba dan kamu berhasil menaklukkan impianmu, kamu boleh kok pamer foto estetik di media sosial. Tapi ingat satu hal: hargai setiap luka, capek, dan encok yang sudah membawa kamu sampai ke titik itu.
Sekarang, basuh muka, minum air putih, dan lanjut berjuang lagi. Percayalah, kelak air mata dan keringatmu hari ini bakal jadi cerita paling keren buat kamu bagikan sambil seruput kopi mahal!
Your email address will not be published. Required fields are marked *