
Sekarang hidup maunya soft.
Bangun tidur jangan buru-buru.
Minum kopi dulu.
Putar musik yang menenangkan.
Nyalakan diffuser.
Tarik napas.
Kalau ada masalah?
“Healing dulu, deh.”
Tidak salah, sih.
Siapa juga yang bercita-cita hidup penuh penderitaan? Tidak ada orang bangun pagi lalu berkata:
“Ya Tuhan, semoga hari ini hidup saya dipersulit.”
Tapi masalahnya muncul ketika soft life berubah dari hidup dengan lebih tenang menjadi hidup yang tidak boleh terganggu sedikit pun.
Wi-Fi mati lima menit: stres.
Pesanan makanan terlambat: emosi.
AC kurang dingin: merasa hidup sedang tidak berpihak.
Chat cuma dibalas “oke”: overthinking tiga hari.
Bos bilang, “Tolong revisi sedikit.”
Langsung buka Google:
“Ciri-ciri toxic workplace.”
Nah, ini mulai bahaya.
Kita Makin Nyaman, Tapi Kok Makin Gampang Panik?
Teknologi memang membuat hidup luar biasa gampang.
Mau makan? Klik.
Mau belanja? Klik.
Mau naik kendaraan? Klik.
Mau transfer uang? Klik.
Mau nonton film? Klik.
Mau cari jodoh?
Geser.
Semua didesain supaya kita tidak perlu terlalu banyak repot.
Masalahnya, lama-lama otak kita mulai punya standar baru:
“Kalau bisa mudah, kenapa harus susah?”
Kalimat ini terdengar sangat bijaksana sampai suatu hari listrik mati.
Tiba-tiba satu rumah kehilangan arah hidup.
“Wi-Fi mati?”
“Router-nya kenapa?”
“Kuotamu ada?”
“Powerbank mana?”
“INI TOKEN LISTRIK SIAPA YANG LUPA ISI?!”
Lima menit sebelumnya keluarga harmonis.
Lima menit kemudian seperti rapat kabinet darurat.
Kaum Emak-Emak: Ketika Ekosistem Digital Runtuh
Bayangkan seorang ibu modern.
Belanja sayur lewat aplikasi.
Bayar listrik lewat aplikasi.
Pesan makanan lewat aplikasi.
Beli sabun lewat aplikasi.
Transfer uang lewat aplikasi.
Sampai beli bawang merah pun sekarang kadang tinggal pencet.
Hidup damai.
Lalu datanglah bencana terbesar abad ini:
Wi-Fi mati 30 menit.
Suasana rumah berubah.
“Ayah, modemnya merah!”
“Coba restart.”
“Sudah!”
“Cabut kabel.”
“Sudah!”
“Hubungi providernya.”
“PAKAI APA? WI-FI-NYA MATI!”
Grup WhatsApp keluarga mulai panas.
Tulisan berubah kapital.
“INTERNET MATI DARI TADI.”
Padahal baru 11 menit.
Kurir paket yang dijadwalkan datang jam 10.00 belum muncul sampai 10.17.
Status aplikasi:
“Kurir sedang menuju lokasi Anda.”
Ibu mondar-mandir di teras seperti menunggu kepulangan anak dari medan perang.
“Katanya menuju lokasi. Lokasi siapa?”
Setiap ada suara motor berhenti:
“ITU PAKET!”
Ternyata tukang galon.
Kecewa.
Hidup memang keras.
Kaum Bapak-Bapak Juga Tidak Kalah
Bapak-bapak kadang suka bercerita:
“Dulu zaman Ayah sekolah, jalan kaki lima kilometer.”
“Tidak pakai sepatu.”
“Lewat kebun.”
“Pernah dikejar anjing.”
“Pulang masih bantu kakek.”
Hebat.
Sangat tangguh.
Lalu sekarang remote TV hilang.
Seketika seluruh ketangguhan masa muda itu menguap.
“REMOTE MANA?”
Semua anggota keluarga dipanggil.
Sofa dibongkar.
Bantal dilempar.
Meja diperiksa.
Remote ternyata ada di bawah paha beliau sendiri.
Hening.
Tidak ada permintaan maaf.
Bapak langsung ganti channel.
Besoknya lampu teras mati.
“Yah, tolong ganti lampu.”
“Nanti.”
“Kapan?”
“Nanti.”
“Dari kemarin.”
“Ini bukan sekadar mengganti lampu. Kita harus lihat dulu instalasinya.”
Padahal bohlamnya tinggal diputar.
Tapi memang semakin umur bertambah, beberapa pekerjaan rumah tangga membutuhkan rapat teknis terlebih dahulu.
Generasi Muda Punya Versi Sendiri
Anak muda juga punya bentuk kenyamanan masing-masing.
Restoran pakai QR code?
Aman.
Pesan makanan lewat layar?
Aman.
Bayar pakai QRIS?
Aman.
Tiba-tiba masuk warung.
Tidak ada QR.
Tidak ada layar.
Tidak ada menu digital.
Penjualnya bertanya langsung:
“Mau pesan apa, Kak?”
Otak:
SYSTEM ERROR.
“Eeee…”
“Mau makan apa?”
“Sebentar, Bu.”
Padahal cuma ditanya nasi goreng atau mie goreng.
Belum lagi kalau harus menelepon orang.
Chat:
aman.
Voice note:
masih aman.
Telepon langsung?
“Kenapa dia nelepon?”
Ada sedikit aroma keadaan darurat.
Padahal orangnya cuma mau bilang:
“Paketmu saya taruh di satpam, ya.”
Masalah Receh Mulai Terasa Seperti Ujian Nasional
Masalah terbesar dari hidup yang terlalu steril bukan kita menjadi senang.
Senang itu bagus.
Masalahnya adalah toleransi kita terhadap ketidaknyamanan bisa mengecil.
Akhirnya kejadian kecil terasa besar.
Ban motor bocor:
“Kenapa selalu aku?”
Es kopi kurang manis:
“Hariku rusak.”
Hujan ketika mau keluar:
“Semesta menyuruhku istirahat.”
File Word belum tersimpan lalu laptop mati:
…
Oke.
Yang terakhir memang pantas menangis.
Tetapi intinya sederhana.
Kalau setiap ketidaknyamanan langsung dianggap sesuatu yang harus dihindari, kita tidak pernah belajar menghadapi rasa repot.
Padahal hidup nyata sayangnya tidak punya tombol:
SKIP CHALLENGE.
Mental Itu Mirip Otot
Otot tidak jadi kuat karena setiap hari rebahan sambil berkata:
“Aku menerima diriku apa adanya.”
Bagus menerima diri.
Tapi kalau targetnya ingin mengangkat galon, tetap harus latihan.
Mental juga begitu.
Kesabaran dilatih ketika harus menunggu.
Keberanian dilatih ketika harus mencoba.
Kemampuan menyelesaikan masalah tumbuh ketika… ya, ada masalah.
Kemampuan menghadapi orang lain berkembang ketika kita benar-benar menghadapi orang lain.
Bukan hanya membalas:
“Noted kak 🙏🏻”
dari balik layar.
Sedikit gesekan diperlukan.
Sedikit kerepotan diperlukan.
Sedikit gagal juga diperlukan.
Bukan karena hidup harus sengsara.
Tetapi karena hidup memang tidak akan terus menerus menyesuaikan diri dengan kenyamanan kita.
Jadi, Soft Life Salah?
Tidak.
Yang salah itu kalau definisinya berubah menjadi:
“Saya tidak boleh capek.”
“Saya tidak boleh kecewa.”
“Saya tidak boleh menghadapi orang sulit.”
“Saya tidak boleh gagal.”
“Semua harus sesuai mood saya.”
Itu bukan soft life.
Itu namanya ingin hidup memakai cheat code.
Padahal hidup tidak menyediakan mode:
Easy – No Stress – Unlimited Money – Everyone Agrees With You.
Sayang sekali.
Sesekali, Biarin Hidup Agak Ribet
Cobalah sesekali melakukan sesuatu yang sedikit merepotkan.
Antre tanpa mengeluh setiap 17 detik.
Ngobrol langsung dengan orang.
Pergi tanpa semua kondisi harus sempurna.
Belajar sesuatu yang bikin bingung.
Menerima revisi tanpa merasa harga diri diruntuhkan.
Kehujanan sedikit tanpa langsung membuat Instagram Story:
“Universe is testing me.”
Salah naik jalan, lalu cari jalan pulang.
Gagal, lalu mencoba lagi.
Karena sering kali ketangguhan justru lahir dari pengalaman-pengalaman kecil seperti itu.
Bukan dari penderitaan besar.
Bukan pula dari hidup yang sengaja dibuat susah.
Cuma dari kebiasaan berkata:
“Oke, ini memang tidak nyaman. Tapi gue bisa ngadepin.”
Dan mungkin itulah versi soft life yang lebih sehat:
hidup tetap tenang, tetapi bukan berarti rapuh.
Boleh pakai diffuser.
Boleh healing.
Boleh rebahan.
Boleh pesan makanan lewat aplikasi.
Tapi kalau suatu hari Wi-Fi mati, kurir terlambat, AC rusak, hujan turun, remote TV hilang, dan kopi kurang gula…
semoga kita masih bisa berkata:
“Ya sudah. Beresin satu-satu.”
Bukan langsung merasa alam semesta sedang melakukan personal attack.
Karena hidup yang nyaman memang menyenangkan.
Tapi mental yang kuat jauh lebih berguna saat hidup tiba-tiba tidak nyaman.
Your email address will not be published. Required fields are marked *